Dikutip dari makalah “Al-Qur’an: Sejarah Turunnya, Penulisannya, dan Pemeliharaanya” Oleh: Muhammad Riyanto, Uji Ngakibah, Mardatillah.

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Kalam Illahi yang tidak bakal lapuk oleh waktu dan zaman. Tak lain, karena Allah azza wa jalla sendiri yang menjamin pemeliharaannya. Hal ini agaknya tak disangsikan lagi. Dan telah diterima umat sebagai ‘publik truth”, yang telah menjadi ‘faith system’. Walaupun demikian untuk dapat menjadikan  Al Qur’an sebagai Kalam Illahi bukan hanya sekedar sumber-sumber norma keimanan maka perlu membumikan Al Qur’an agar pemeliharaan bagi umat manusia sebagai khalifah bumi dapat terus terlaksana. Dalam rangka lebih mengenal Al Qur’an sebagai agar pemeliharaan dan pengamalannya tidak hanya sebatas kewajiban ada baiknya diketahui bagaimana sejarah Nuzul Al Qur’an itu sendiri sejak jaman Nabi Muhammad SAW sampai saat ini.

Sejarah turunnya Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun  2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 dhulhijjah Haji wada’ tahun  63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.[1]Permulaan turunnya Al-Qur’an ketika Nabi SAW bertahannus (beribadah) di Gua Hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan perantara Jibril Al-Amin dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an Hakim. Surat yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Sebelum wahyu diturunkan telah turun sebagian irhas (tanda dan dalil) sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dengan sanad dari Aisyah yang menunjukkan akan datangnya wahyu dan bukti nubuwwah bagi rasul SAW yang mulia. Diantara tanda-tanda tersebut adalah mimpi yang benar di kala beliau tidur dan kecintaan beliau untuk menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya.

Al-Qur’an diturunkan  pada bulan ramadhan berdasarkan nash yang  jelas yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah  ayat 185 :

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap, yaitu : [2]

  1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh[3] yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruuj : 21-22
    Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al- Qur’an  yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
    dan Q.S Al-Waqi’ah :77-80 yang artinya : ”Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan,  Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
  2. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia. Diisyaratkan dalam: Q.S Al-Qadar: 1, ”Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.
    dan pada QS Ad-Dhuhan:3,  “Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.
  3. Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati Nabi melalui malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan kadang-kadang satu surat. Diisyaratkan dalam Surat Ass-Syu’ara’ 193-195, “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”.

[1])  Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980, hal. 5-6

[2]) Subhi Ash-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin Bairut, 1988, hal. 51

[3]) Lauh Mahfuzh adalah sebuah catatan yang di dalamnya terdapat catatan mengenai segala sesuatu yang eksis dan yang ditulis sejak Zaman azali

Iklan