Artikel ini dikutip dari “Al-Qur’an: Sejarah Turun, Penulisan, dan Pemeliharaannya” Oleh: Muhammad Riyanto, Uji Ngakibah, dan Mardatillah.

Pemeliharaan Al-Qur’an di Masa Nabi SAW
Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi SAW terbagi atas dua cara, yaitu:

  1. Pengumpulan dalam dada, dengan cara menghapal, menghayati dan mengamalkan.
    Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Karena itu, perhatian Nabi hanyalah untuk sekedar menghapal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an diturunkan. Setelah itu, ia membacakannya kepada umatnya sejelas mungkin agar mereka pun dapat menghapal dan memantapkannya.
    Nabi SAW memiliki keinginan untuk menguasai Al-Qur’an, sehingga beliau menghiasi salat malamnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Rasul menjadi seorang yang paling menguasai Al-Qur’an. Beliau bisa mengabdikan (menghimpun) Al-Qur’an dalam hatinya yang mulia. Beliau menjadi tumpuan bagi orang-orang Islam dalam memecahkan masalah yang mereka perlukan sehubungan masalah Al-Qur’an.
  2. Pengumpulan dalam dokumen, dengan cara menulis dalam kitab, atau diwujudkan dalam bentuk ukiran.
    Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’an Karim adalah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap Al-Qur’an, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghapalan dan memperkuat daya ingat.
    Para penulis wahyu tersebut adalah sahabat pilihan Rasul dari kalangan sahabat yang terbaik dan indah tulisannya sehingga mereka benar-benar dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantaranya adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Muawiyah bin Abu Sufyan, Khulafaur Rashidin dan sahabat-sahabat lain. Proses penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi SAW sangat sederhana. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaran kayu, pelepah kurma, tulang belulang dan batu. Kegiatan tulis-menulis Al-Qur’an pada masa Nabi disamping dilakukan oleh sekretaris Nabi, juga dilakukan oleh sahabat lain.
    Sebagaimana Hadits Nabi yang diriwayatkan Muslim: ”Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dariku, kecuali Al-Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya”.
    Faktor yang mendorong penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi SAW adalah: membukukan hapalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna. Hal ini karena hapalan para sahabat saja tidak cukup, terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka ada yang sudah wafat. Adapun tulisan akan tetap terpelihara walaupun pada masa Nabi, penulisan Al-Qur’an tidaklah pada satu tempat.
    Penulisan Al-Qur’an tidak pada satu tempat berdasarkan proses penurunan Al-Qur’an masih berlanjut sehingga ada kemungkinan ayat yang turun belakangan “menghapus” redaksi dan ketentuan hukum ayat yang sudah turun terdahulu. Penyusunan ayat dan surat Al-Qur’an tidak bertolak dari kronologi turunnya, tetapi bertolak dari keserasian antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau antara satu surat dengan surat yang lain. Terkadang ayat atau surat yang turun belakangan ditulis lebih dahulu ketimbang ayat atau surat yang turun terlebih dahulu.

Pemeliharaan Al Qur’an di Masa Abu Bakar ra.
Ketika Rasulullah SAW meninggal, Al Qur’an belum dihimpun di dalam satu mushaf karena masih menunggu kemungkinan adanya penghabisan sebagian hukum dan tilawahnya. Ketika penurunan wahyu sudah terputus dengan meninggalnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan kepada para khalifah yang terpimpin melakukan penghimpunan Al Qur’an. Saat itu kondisi yang ada Al Qur’an hanya dihapal oleh para sahabat dan orang-orang yang terpilih, maka sesuai dengan janji Allah SWT yang akan menjamin keterpeliharaannya bagi ummat ini.
Pada hakekatnya Al Quran juga telah dihimpun pada masa Rasulullah SAW atas petunjuk Jibril kepadanya, kemudian yang kedua masa Abu Bakar al-Shiddiq dan ketiganya pada masa Usman bin Affan dengan penerbitan surat-suratnya. Pada masa Rasulullah SAW terdapat beberapa sahabat yang bertugas sebagai penulis wahyu. Apabila diturunkan ayat-ayat Al Qur’an, Nabi memanggil mereka agar menulisnya diatas sarana penulisan yang ada pada satu naskah untuk disimpan di tempat Nabi SAW dan yang lainnya untuk penulis itu sendiri. Pada waktu Nabi SAW meninggal, lembaran-lembaran tulisan itu dan yang lainnya berada pada istri-istri beliau. Diceritakan bahwa Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Abu Bakar ra memintaku datang berkenan dengan kematian para sahabat di peristiwa Yamamah, pada saat itu Umar ra berada di sisinya, lalu Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya Umar ra datang kepadaku mengatakan bahwa para penghapal Al Qur’an banyak terbunuh di peristiwa Yamamah dan sesungguhnya aku khawatir akan terbunuhnya para penghapal Al Qur’an (yang masih ada ini) di berbagai tempat lalu dengan itu banyak bagian Al Qur’an yang hilang; karena itu aku mengusulkan agar kamu memerintahkan penghimpunan Al Qur’an. Kemudian aku berkata pada Umar : “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW? Lalu Umar berkata ; “Demi Allah, ini adalah kebaikan”. Maka Umar pun terus mendesakku sehingga Allah SWT melapangkan dadaku untuk itu dan aku (sekarang) sependapat dengan Umar. Zaid berkata bahwa, “Abu Bakar berkata : Sesungguhnya kamu adalah pemuda yang bijaksana, kami tidak menyangsikanmu, karena kamu pernah menjadi penulis wahyu bagi Nabi SAW maka periksalah Al Qur’an dan himpunlah”. Demi Allah, seandainya mereka menugasiku untuk memindahkan salah satu gunung, sungguh itu tidaklah lebih berat bagiku ketimbang apa yang ia perintahkan kepadaku yaitu menghimpun Al-Qur’an”.

Jati diri Zaid bin Tsabit sendiri begitu istimewa sehingga tak heran Abu Bakar dan Umar diberikan kelapangan dada untuk memberikan tugas tersebut pada Zaid bin Tsabit, yang mana sebagai pengumpul dan pengawas komisi ini Zaid bin Tsabit dibantu Umar sebagai sahibul fikrah yakni pembantu khusus. Beberapa keistimewaan tersebut diantaranya adalah :

  • Berusia muda, saat itu usianya di awal 20-an (secara fisik & psikis kondisi prima)
  • Akhlak yang tak pernah tercemar, ini terlihat dari pengakuan Abu Bakar yang mengatakan bahwa, “Kami tidak pernah memiliki prasangka negatif terhadap anda”.
  • Kedekatannya dengan Rasulullah SAW, karena semasa hidup Nabi, Zaid tinggal berdekatan dengan beliau.
  • Pengalamannya di masa Rasulullah SAW masih hidup sebagai penulis wahyu dan dalam satu kondisi tertentu pernah Zaid berada di antara beberapa sahabat yang sempat mendengar bacaan Al Qur’an malaikat jibril bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan.
  • Kecerdasan yang dimilikinya menunjukkan bahwa tidak hanya karena memiliki vitalitas dan energi namun kompetensinya dalam kecerdasan spiritual dan intelektual

Di sebutkan Abu Bakar ra mengatakan pada Zaid, “Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah SWT dengan kesaksian 2 orang maka tulislah. Hal ini bermakna bahwa kesaksian 2 orang saksi erat hubungannya dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis dimana Qur’an diwahyukan. Bukan itu saja 2 orang sahabat tersebut juga menyaksikan bahwa orang yang menerima ayat tersebut seperti yang diperdengarkan Rasulullah SAW. Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi bukan hanya berdasarkan hafalan semata-mata.

Waktu pengumpulan Zaid terhadap Al Qur’an sendiri sekitar 1 tahun, ini dikarenakan dalam mengerjakannya Zaid sangat hati-hati sekalipun ia seorang pencatat wahyu yang utama dan hafal seluruh Al Qur’an. Dalam melakukan pekerjaannya ini Zaid berpegangan pada :
a. Ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis di hadapan Nabi Muhammad SAW dan yang disimpan di rumahnya
b. Ayat-ayat yang dihafal oleh para sahabat yang hapal Al Qur’an

Buah hasil kerja Zaid sangat teliti dan hati-hati sehingga memiliki akurasi yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan :
a. Menulis hanya ayat Al Qur’an yang telah disepakati mutawatir riwayatnya
b. Mencakup semua ayat Al Qur’an yang tidak mansukh at-tilawah
c. Susunan ayatnya seperti yang dapat kita baca pada ayat-ayat yang tersusun dalam Al Qur’an sekarang ini
d. Tulisannya mencakup al-ahruf al-sab’ah sebagaimana Al Qur’an itu diturunkan
e. Membuang segala tulisan yang tidak termasuk bagian dari Al Qur’an

Senada dengan itu, Az Zargani menyebutkan bahwa ciri-ciri penulisan Al Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar ini adalah :
a. Seluruh ayat Al Qur’an dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama
b. Tidak termasuk di dalamnya ayat-ayat Al Qur’an yang telah mansukh atau di nasakh bacaannya
c. Seluruh ayat Al Qur’an yang ditulis di dalamnya telah diakui kemutawatirannya
Kekhusususan hasil kerja Zaid sendiri membedakan dengan catatan para sahabat yang menjadi dokumentasi pribadi. Catatan mereka yang masih mencakup ayat-ayat yang mansukh at-tilawah, ayat-ayat yang termasuk kategori riwayat al-ahad, catatan doa dan tulisan yang diklasifikasikan sebagai sebagai tafsir dan takwil.

“Maka sebagaimana Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar sebelumnya dan akhirnya Allah pulalah yang melapangkan dadaku maka aku periksa Al Qur’an dan aku menghimpunnya dari pelepah kurma, batu-batu tulis dan dada-dada para sahabat sehingga aku mendapati akhir surat At-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; aku tidak mendapatkannya pada sahabat lainnya, yaitu ayat laqad ja’akum rasulu(n)….. sampai akhirAt-Taubah”. Maka mushaf-mushaf itu disimpan oleh Abu Bakar sampai ia meninggal kemudian disimpan oleh Umar sampai ia meninggal dan selanjutnya disimpan oleh Hafsah binti Umar.

Pemeliharaan al-Qur’an dari Masa Usman bin Affan ra – Kini
Pada masa khalifahan Usman bin Affan ra umat Islam mulai menyebarkan jihad Islam ke arah utara sampai Azerbaijan dan Armenia. Berasal dari suku kabilah dan provinsi yang beragama sejak awal pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan. Nabi Muhammad SAW sendiri memang telah mengajarkan membaca Al Qur’an berdasarkan dialek mereka masing-masing lantaran dirasa sulit untuk meninggalkan dialek mereka secara spontan. Namun kemudian adanya perbedaan dalam penyebutan atau membaca Al Qur’an yang kemudian menimbulkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa Hudzaifah bin al-Yaman pernah datang kepada Usman, waktu itu Hudzaifah memimpin penduduk Syam dan Iraq dalam menaklukkan Armenia dan Azarbaijan, maka ia terkejut oleh perselisihan mereka (antara penduduk Syam dan Iraq) dalam qira’ah 135, lalu ia berkata pada Usman, “Selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih sebagaimana perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka Usman meminta pada Hafsah agar meminjamkan mushaf-nya untuk ditranskrip dalam beberapa mushaf kemudian Usman meminta pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin al-Zubair, Sa’d bin Abi Waqqashdan Abdul Rahman bin al-Harits bin Hisyamlalu mereka pun menterjemahkan kepada beberapa mushaf . Usman berkata kepada kepada 3 tokoh Quraisy tersebut, “ Apabila kalian bertiga berselisih dengan Zaid tentang sesuatu dari Al Qur’an maka tulislah ia dengan bahasa Quraisy karena ia diturunkan dengan bahasa mereka. Pesan ini mereka lakukan dengan baik. Kemudian setelah penulisan beberapa mushaf tersebut maka dikirimkan setiap mushaf ke berbagai pusat Islam, masing-masing salinan Al Qur’an ini disediakan sebagai otoritas rujukan bagi masyarakat yang dari situ mereka membuat lagi salinannya dan kepadanya mereka merujukkan bila muncul perbedaan pembacaan mushaf antar kota. Adapun mushaf di Madinah sebagai mushaf al-Iman yang menjadi rujukan terakhir umat Islam.

Ide tentang penyeragaman bacaan Al Qur’an sendiri digulirkan sahabat Huzaifah bin al Yaman. Kesaksian Huzaifah tentang perselisihan umat Islam disebabkan perbedaan bacaan ditanggapi oleh Usman dengan positif. Ia menyadari bahwa perbedaan bacaan ini muncul lantaran adanya perbedaan bacaan para guru yang mengajarinya berpangkal pada beberapa alternatif yang dimunculkan oleh sab’atu ahruf. Dalam kaitan ini seperti yang dikutip Sirojuddin dalam Nur Faizah berkata bahwa Usman tidak bermaksud seperti maksud Abu bakar dalam mengumpulkan Al Qur’an namun hanya ingin menyatukan versi qira’at umat Islam ke dalam qiraat tetap yang diketahui berasal dari Rasulullah SAW serta membatalkan berbagai qiraat yang bukan dari beliau. Sehingga Usman telah memberikan ruang ragam dialeknya menjadi satu dialek saja yakni dialek quraisy.
Adapun mushaf Hafsah binti Umar kelak dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan bin Hakam dari Dinasti Umayyah. Tindakan Marwan dilakukan demi mengamankan keseragaman mushaf Al Qur’an yang telah diupayakan oleh Khalifah Usman serta untuk menghindari keragu-raguan umat Islam di masa yang akan datang terhadap mushaf Al Qur’an jika masih terdapat dua macam mushaf yakni mushaf Usman dan mushaf Hafsah.

Az Zargani sendiri mencatat bahwa ciri-ciri mushaf yang disalin pada Khalifah Usman adalah sebagai berikut :
a. Ayat-ayat Al Qur’an yang tertulis di dalamnya seluruhnya berdasarkan riwayat yang mutawwir berasal dari Rasulullah
b. Tidak terdapat di dalamnya ayat-ayat Al Quran yang mansukh atau dinasakh bacaannya
c. Susunan menurut urutan wahyu
d. Tidak terdapat di dalamnya yang tidak tergolong pada Al Qur’an seperti apa yang ditulis oleh sebagian sahabat dalam mushaf masing-masing sebagai penjelasan atau keterangan terhadap ayat-ayat tertentu
e. Mushaf yang ditulis pada masa khalifah usman tersebut mencakup “tujuh huruf” dimana Al Qur’an diturunkan dengannya

Dari penjelasan ini maka periodesasi pengumpulan Al Quran tersebut terdapat perbedaan yang prinsipil yang diutarakan oleh Az Zargani yakni:
a. Penulisan Al Qur’an pada masa Nabi Muhammad dilakukan untuk mencatat dan menulis setiap wahyu yang diturunkan kepadanya dengan menertibkan ayat-ayat di dalam surah-surah tertentu sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW
b. Saat khalifah Abu Bakar pengumpulan tulisan-tulisan Al Quran menurut urutan turunnya wahyu, dikarenakan kekhawatiran banyaknya penghafal Qur’an yang meninggal dalam peperangan
c. Saat khalifah Usman dilakukan penyalinan mushaf menjadi beberapa mushaf dengan tertib ayat maupun surahnya sebagaimana yang ada sekarang, dikarenakan adanya perpecahan dikalangan umat Islam dipicu oleh perbedaan qiraat Al Qur’an

Kondisi umat Islam sesudah adanya mushaf yang dilakukan pada khalifah Usman sendiri sangat hati-hati, cermat dan teliti ketika menyalin dengan bahasa mereka. Salah satunya terlihat pada gubernur Mesir Abdul Aziz ibn Marwan yang menyuruh orang untuk menunjukkan bahwa suatu kesalahan dalam salinan tersebut jika terjadi kesalahan maka berikan padanya seekor kuda dan 30 dinar, diantaranya yang memeriksa adalah seorang qori yang dapat menunjukkan suatu kesalahan yaitu kesalahan naj’ah padahal sebenarnya na’jah.

Mushaf Usmani tidak memakai tanda baca seperti titik dan syakal karena semata-mata didasarkan pada watak pembawaan orang-orang Arab murni di mana mereka tidak memerlukan syakal, titik dan tanda baca lainnya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada masa itu tulisan hanya terdiri atas beberapa simbol dasar, hanya melukiskan struktur konsonan dari sebuah kata yang sering menimbulkan kekaburan lantaran hanya berbentuk garis lurus semata.

Ketika bahasa Arab mulai mendapat berbagai pengaruh dari luar karena bercampur dengan bahasa lainnya maka para penguasa mulai melakukan perbaikan-perbaikan yang membantu cara membaca yang benar. Perlunya pembubuhan tanda baca dalam penulisan Qur’an mulai dirasakan ketika Ziyad bin Samiyah menjadi gubernur Basrah pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan (661-680M). Ia melihat telah terjadi kesalahan di kalangan kaum muslimin dalam membaca Al qur’an. Sebagai contoh kesalahan dalam membaca firma Allah SWT dalam surat 9:3 . Melihat kenyataan seperti itu Ziyad meminta Abu al-Aswad al Duali untuk memberikan syakal. Ia memberi tanda fathah atau tanda bunyi (a) dengan membubuhkan tanda titik satu di atas huruf, tanda kasrah atau tanda bunyi (i) dengan membubuhkan tanda titik satu dibawah huruf, tanda dammah atau tanda bunyi (u) dengan membubuhkan tanda titik satu terletak di antara bagian-bagian huruf sementara tanda sukun atau tanda konsonan (huruf mati) ditulis dengan cara tidak membubuhkan tanda apa-apa pada huruf yang bersangkutan

Kemudian tanda baca Abu Al-Aswad tersebut disempurnakan lagi oleh ulama sesudahnya pada masa dinasti Abbasiyah yaitu oleh al-Khalil bin Ahmad. Ia bersependapat bahwa asal usul fathah ialah alif, kasrah dan ya dan dammah adalah wawu. Kemudian fathah dilambangkan dengan tanda sempang di atas huruf, kasrah di bawah huruf dan dammah dengan wawu kecil di atas huruf sedangkan tanwin dengan mendobelkannya. Ia juga memberi tanda pada tempat alif yang dibuang dengan warna merah, pada tempat hamzah yang dibuang dengan hamzah warna merah tanpa huruf. Pada nun dan tanwin yang berhadapan dengan huruf ba diberi tanda iqlab dengan warna merah. Nun dan tanwin berhadapan dengan huruf halqiyah diberi tanda sukun dengan warna merah.
Begitu pula pada masa khalifah Bani Umayyah yang kelima, Abdul Malik bin Marwan memerintahkan seorang ulama bernama al-Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi untuk menciptakan tanda-tanda huruf Qur’an. Untuk mewujudkan hal tesebut diberikan tugas tersebut al-Hajjaj menugaskan kepada Nasr bin Ashin dan Yahya bin Ya’mur. Akhirnya mereka berhasil menciptakan tanda-tanda pada huruf Al Qur’an dengan membubuhkan titik pada huruf-huruf yang serupa untuk membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, huruf dal dengan huruf zal, huruf ba dengan huruf ta dan huruf sa. Demikianlah huruf-huruf sebagaimana yang kita kenal seperti saat ini.
Jadi tampak bahwa perbaikan Rasm al-Usmani terjadi melalui tiga proses yakni :
1. Pemberian syakal yang dilakukan oleh Abu al-Aswad al-Duali
2. Pemberian a’jam, titik yang dilakukan oleh Abdul Malik bin Marwan dan al-Hajjaj
3. Perubahan syakal pemberian Abu al-Aswad ad-Duali menjadi seperti sekarang ini yang dilakukan oleh al-Khalil

Al Qur’an sendiri pertama kali dicetak di Hamburg Jerman pada 1113H. Salah satu mushaf hasil cetakan pertama ini konon terdapat di Dar al-Kutub al-Arabiyah, Kairo Mesir. Sementara di Turki pertama kali dicetak pada 1129H kemudian menyusul di Iran 1248H. Madinah saat ini terdapat percetakan Al Qur’an yang diklaim terbesar di dunia. Percetakan itu mulai dibangun oleh Raja Fahd pada tanggal 2 November 1982. Pada Oktober 1984 dimulai diproduksi dengan berbagai ukuran, dengan komplek yang lengkap mulai dari masjid, show room produksi sekaligus toko tempat penjualan, asrama karyawan, klinik dan perpustakaan.

Percetakan ini juga mencetak dan menterjemahkan al-Qur’an ke dalam 50 bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia. Al Qur’an disini dicetak di percetakan dan dibagikan secara gratis ke seluruh dunia seperti melalui masjid-masjid. Demikian juga yang dibagikan kepada jamaah haji, mereka akan mendapatkan Al Qur’an secara gratis pada waktu hendak naik pesawat terbang untuk kembali ke negeri mereka masing-masing.

Daftar Pustaka:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, edisi Indonesia: Bagaimana Kita Memahami Al-Qur’an, penerjemah: Muhammad Qawwam, LC., Abu Luqman, penerbit: Cahaya Tauhid Press Malang, cet. ke-1 Muharram 1427H/Pebruari 2006M, hal. 33-38,

Anwar,R. 1998. Ulumul Qur-an. Pustaka Setia, Bandung.

Az Zargani t.t Manahil al-Irfan fi Ulum al Qur’an juz 1. Mesir: Isa al Babiy al Halabiy

Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab ; Ziyaadatul Iman Wa Nuqshaanuhu (Bertambah dan berkurangnya keimanan), hadits nomor 45, Muslim, Kitab At-Tafsir, Bab Fii Tafsiri Aayaatin Mutafarriqah, hadits nomor 3015

Imam As-Suyuthi, 1995. Apa itu Al Qur’an. Gema Insani Press. Jakarta

Hudhari Bik, 1980. Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah)

Nur Faizah, 2008. Sejarah Al Quran . CV. Artha Rivera. Jakarta.

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah. Al-Madkhal li Dinasat al-Quran al Karim. Kairo: Al-maktabah al-Sunnah

Muhammad Ali Ash-Shaabuniy (Alih Bahasa : Drs. H. Aminuddin) Studi Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Setia.1999,

Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. 2000. Sejarah & Pengantar Ilmu Al Qur’an dan Tafsir. PT.Pustaka Rizki Putera. Semarang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy

Subhi Ash-Shalih, 1988. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin Bairut

Zuhdi, M. 1997. Pengantar Ulumul Quran. Karya Abditama. Surabaya

Iklan