Al-Quran Al-Kariem adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan aplikasikan dalam kehidupan mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.

Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia dengan berbagai fungsi diantaranya berfungsi sebagai petunjuk (hudan), obat atau penawar hat (as-syifaa’), pembeda antara yang haq dan batil (al-furqan), serta pemberi kabar baik dan peringatan (basyiraa wa nazira). Selain dari itu kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang mengandung kebenaran adalah hal yang paling pokok dan penting. Karena fungsinya ini, Al-Qur’an selalau dirujuk oleh manusia sejak kehadirannya sampai sekarang.

Al Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, sebagian besar ayat-ayat al_Qur’an pada dasarnya mengajarkan kita untuk menegakkan suatu kehidupan yang berdasarkan keimanan, menyikapi sejarah masa lalu serta kejadian-kejadian kontemporer dan tentang berita-berita masa depan.

Mempelajari kandungan Al-Qur’an akan menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan dan pandangan, menemukan persfektif baru, serta mendapatkan hal-hal yang baru. Mempelajari kandungan Al-Qur’an dapat mendorong kita lebih meyakini kebenaran dan keunikan kandungannya, yang menunjukkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sebagai penciptanya.

Untuk lebih memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an, kiranya diperlukan pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat-ayat al-Qur’an, atau yang sering disebut sebagai “Asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya suatu ayat). Dengan mengetahui asbabun nuzul suatu ayat, kita akan lebih memahami makna dan kandungan ayat tersebut, serta akan terlepas dari keragu-raguan dalam menafsirkannya. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya. Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Upaya itu telah mereka laksanakan sejak Nabi Muhammad Saw masih berada di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah hingga saat ini. Dengan kata lain upaya tersebut telah mereka laksanakan sejak al-Qur’an diturunkan hingga saat ini. Mengerti  asbabun nuzul sangat banyak manfaatnya. Karena itu tidak benar orang-orang mengatakan, bahwa mempelajari dan memahami sebab-sebab turun  al-Qur’an itu tidak berguna, dengan alasan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an itu telah masuk dalam ruang lingkup sejarah. Di antara manfaatnya yang praktis ialah menghilangkan kesulitan dalam memberikan arti  ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam sejarah dikemukakan bahwa para ulama salaf pernah mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an. Namun setelah mendapatkan asbabun nuzul ayat-ayat teresebut, mereka tidak lagi mendapat kesulitan dalam menafsirkan. [1]

Untuk mengetahui asbab an-nuzul secara shahih, para ulama berpegang kepada riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam atau dari sahabat.Pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya.  Ilmu Asbabun Nuzul mempunyai pengaruh yang penting dalam memahami ayat, karenanya kebanyakan ulama begitu memperhatikan ilmu tentang asbabun nuzul bahkan ada yang menyusunnya secara khusus. Diantara tokoh (penyusunnya) antara lain Ali Ibnu al-Madiny guru Imam al-Bukhari r.a.

Kitab yang terkenal dalam hal ini adalah kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidy sebagaimana halnya judul yang telah dikarang oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar. Sedangkan as-Sayuthy juga telah menyusun sebuah kitab yang lengkap lagi pula sangat bernilai dengan judul Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Oleh karena pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya, dapatlah kami katakan bahwa diantara ayat Al-Qur’an ada yang tidak mungkin dapat dipahami atau tidak mungkin diketahui ketentuannya/hukumnya tanpa ilmu Asbabun Nuzul.

Beberapa alasan perlunya mempelajari asbabun nuzul antara lain adalah karena:

  1. Penegasan bahwa al-Qur’an benar dari Allah.
  2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memperhatikan Rasul dalam menjalankan misi risalahnya.
  3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya dengan menghilangkan duka cita mereka.
  4. Sarana memahami ayat secara tepat.
  5. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
  6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an.
  7. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat.
  8. Memudahkan menghafal dan memahami ayat serta memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.
  9. Mengetahui makna serta rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an
  10. Menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum.
  11. Cara mengetahui riwayat asbabun nuzul melalui periwayatan yang benar dari orang-orang yang melihat dan melihat langsung turunnya ayat.
  12. Kaidah hukum yang belum jelas dalam al-Qur’an, dapat dipermudah dengan mengetahui asbab-nuzulnya. Karena dengannya penafsiran ayat lebih jelas untuk dipahami.[2]
Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang terjadi sebelum turun ayat, sedangkan sesudah turunnya ayat tidaklah disebut “asbab”.[3] Menurut Wakidy, Asbabun Nuzul adalah peristiwa sebelum turun ayat, walaupun “sebelumnya” itu masanya jauh seperti adanya peristiwa gajah dengan surat al-Fiil.

1. Pengertian Asbabun Nuzul secara bahasa;

Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Qur’an[4]. dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud adalah; secara historis, al-Qur’an bukanlah wahyu yang turun dalam ruang hampa, tetapi ia mempunyai latar belakang, argumentasi dan faktor-faktor tertentu yang menjadikan dia “turun” ke bumi. Hal ini karena, al-Qur’an “diturunkan” sebagai alat untuk menjawab problematika kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, kehadirannya di alam material sangat terkait ruang dan waktu tertentu yang menjadi faktor-faktor di balik turunnya al-Qur’an.
2. Pengertian Asbabun Nuzul secara Istilah;
Menurut istilah atau secara terminologi asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya adalah, sesuatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi Muhammad Saw, atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi dan turunlah suatu atau beberapa ayat dari Allah Swt yang berhubungan dengan kejadian itu, atau dengan “dijawabnya” pertanyaan itu baik peristiwa itu merupakan pertengkaran, ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun merupakan suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.
a. Menurut Az-Zarqani
“Az-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan menyatakan, Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan turunya satu atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat.[5] Sanada dengan Az-Zarqani, Daud al-Aththar mendefinisikan Asbabun Nuzul sebagai sesuatu yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu pertanyaan atau menceritakan suatu peristiwa itu
b. Ash-Shabuni
Asbab an-Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
c. Subhi Shalih
Subhi as-Shalih dalam Mabahits fi Ulumil Qur’an menyatakan Asbabul Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunya satu atau beberapa ayat sebagai jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada waktu terjadinya sebab itu.[6]
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”

d. Mana’ al-Qathan

“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.[7]

 

 

Kendatipun redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda semua menyimpulkan bahwa asbab an-nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.

Mengutip pengertian dari Subhi al-Shaleh kita dapat mengetahui bahwa asbabun nuzul ada kalanya berbentuk peristiwa atau juga berupa pertanyaan, kemudian asbabun nuzul yang berupa peristiwa itu sendiri terbagi menjadi 3 macam :
1. Peristiwa berupa pertengkaran
Seperti kisah turunnya surat Ali Imran: 99-103

Yang bermula dari adanya perselisihan oleh kaum Aus dan Khazraj hingga turun ayat 100 dari surat Ali Imran yang menyerukan untuk menjauhi perselisihan.

“…Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman…”

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika kaum Aus dan Khazraj duduk-duduk, berceritalah merekka tentang permusuhan dizaman jahiliah, sehingga bangkitlah amarah kedua kaum tersebut. Masing-masing bangkit memegang senjatanya, saling berhadapan. Maka turunlah ayat tersebut (Ali Imran 99-103).[8]
2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius

Seperti kisah turunnya surat an-Nisa’: 43

Saat itu ada seorang Imam shalat yang sedang dalam keadaan mabuk, sehingga salah mengucapkan surat al-Kafirun, surat An-Nisa’ turun dengan perintah untuk menjauhi shalat dalam keadaan mabuk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…”

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ‘Abdurahman bin ‘Auf mengundang makan ‘Ali dan kawan-kawannya. Kemudian dihidangkan minuman khamar (arak/minuman keras – yang pada saat itu belum ada larangan untuk meminumnya), sehingga terganggulah otak mereka. Ketika tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh ‘Ali menjadi imam, dan pada waktu itu beliau membaca dengan keliru, Qul ya ayyuhal kafirun; la a’budu ma ta’budun; wa nahnu na’budu ma ta’budun (Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah”). Maka turunlah ayat tersebut (Q.S. An Nisa: 43) sebagai larangan shalat dalam keadaan mabuk.[9]

3. Peristiwa berupa cita-cita atau keinginan

Ini dicontohkan dengan cita-cita Umar ibn Khattab yang menginginkan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat

والتخذ وامن مقام ابراهيم مصلّى

Yang terdapat pada surat Al-Baqarah: 125

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ‘Umar menerangkan bahwa pendapatnya bersesuaian dengan firman Allah di dalam tiga perkara, yaitu (1) ketika ia mengemukakan usul: “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya tuan jadikan maqam Ibrahim[10] sebagai tempat shalat?” Maka turunlah ayat tersebut (al-Baqarah: 125)[11]

Sedangkan peristiwa yang berupa pertanyaan dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

1. Pertanyaan tentang masa lalu seperti:
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya’”. (QS. Al-Kahfi: 83)
2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu, seperti ayat:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra’: 85)
3. Pertanyaan tentang masa yang akan datang
Seperti pada surat An-Nazi’at: 42
“(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Asbabun Nuzul adalah suatu peristiwa yang ada kaitan langsung dengan satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang diturunkan ketika itu, baik sebagai: (a) Jawaban suatu pertanyaan atau, (b) Penjelasan hukum yang dikandung ayat tersebut, atau (c) Contoh kasus yang diceritakan ayat tersebut.

[1] Shaleh, 2007, “Asbabun Nuzul” h.5

[2] Subhi as-Shalih, 1985, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

[3] Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumi Qur’an, (Bairut: Daul Fikr, t.th.), h. 29-30.

[4] Ahmad Syadali dan Ahmad Rifa’i, Ulumul Qur’an I, Bandung: Pustaka Setia, 2006, hlm. 89.

[5] Muhammad Abdul Azhim az-Zarqani, Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an, (Darul Hayat al-Kitab al-Arabiyyah,t.th,), h. 22.

[6] Subhi as-Shalih, Mabahits fi Ulumil Qur’an, (Beirut: Darul Ilmi, t.th.), h. 132.

[7] Mana’ al-Qathan, Mabahits fi Ulumul Qur’an, Mansyurat al-Ahsan al-Hadits, t.th, 1973, h. 78.

[8] Diriwayatkan oleh al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dikutip dari Shaleh, Asbabun Nuzul.

[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali. Dikutip dari Shaleh, Asbabun Nuzul

[10] Maqam Ibrahim: Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim a.s. pada batu ketika membangun Ka’bah yang terdapat dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi (Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, 1994, Jakarta: Ikhtiar baru Van Houve, Jilid III, hal. 126). Dikutip dari Shaleh, Ababun Nuzul” h.38 ck.

[11] Sejak itu maqam Ibrahim dijadikan tempat imam berdiri bagi orang-orang yang shalat di Masjidil Haram, dan disunatkan shalat sunat tawaf ditempat tersebut. Dikutip dari Shaleh, “Asbabun Nuzul” h. 38.

Iklan