Ditulis oleh iariputra

Pendahuluan

Mempelajari Ilmu Ekonomi sering dikait-kaitkan dengan kemakmuran dan peradaban yang terjadi pada suatu masyarakat. Pada pemikiran-pemikiran elonomi konvensional, permasalahan ekonomi dianggap terjadi karena terjadinya ketidak seimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemenuh kebututuhan yang terbatas.

Istilah ekonomi yang berkembang saat ini berasal dari bahasa Yunani “oikos” yang berarti “keluarga (rumah tangga)” dan “nomos”, atau “peraturan/aturan/hukum”.[1] Dari kata tersebut dapat diperoleh makna kata “ekonomi” yaitu ilmu yang mempelajari tentang tatacara untuk mengatur rumah tangga atau dengan kata lain Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang berhubungan dengan manajemen rumah tangga.

Pembahasan Ilmu Ekonomi yang semula hanya digunakan untuk sekelompok kecil orang atau dalam suatu rumah tangga (mikro) kemudian berkembang meluas diterapkan untuk kelompok yang lebih besar seperti perekonomian dalam suatu wilayah atau negara (makro).

Pada pemikiran tentang Ilmu Ekonomi secara umum, Adam Smith sering disebut-sebut sebagai orang yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi yaitu pada abad XVIII. Atas jasanya yang telah memfokuskan ilmu ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri ini, Adam Smith memperoleh sebutan sebagai “Bapak dari Ilmu Ekonomi”. Setelah Adam Smith, Ilmu Ekonomi dianggap baru memulai sejarahnya dan diiringi dengan lahirnya tokoh-tokoh ekonomi lainnya seperti Alfred Marshal, J.M. Keynes, Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps.[2]

Seperti itulah sejarah Ilmu Ekonomi yang berkembang pada masyarakat saat ini dengan memulai ukiran sejarahnya pada sang ekonom Adam Smith. Padahal sebelum Adam Smith mengemukakan Ilmu Ekonomi atau bahkan sebelum beliau lahir, Ilmu ekonomi telah diterapkan secara langsung oleh para tokoh dunia dan tercatat dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh yang berpengaruh dan membangun peradaban yang tinggi pada masanya.

Dari sudut pandang Islam, kegiatan ekonomi positif telah berlangsung setelah Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah sebagai Rasull-Nya untuk menyampaikan ajaran Tauhid. Muhammad saw selain menegakan Tauhid juga didalamnya menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam bermasyarakat dan bernegara. Dalam kegiatan ekonomi, Muhammad telah berhasil mengembangkan pasar dengan sifat dan peraturan-peraturan yang sesuai dengan ajaran yang diturunkan oleh Allah sehingga dapat menciptakan suatu kehidupan jual-beli yang adil dan tidak merugikan pihak lain. Selain menciptakan pasar, Muhammad juga menerapkan ilmu Ekonomi yang positif dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat Madinah saat itu.

Meloncat jauh dari catatan sejarah Islam, umat Islam juga pernah mencatat tentang peradaban Islam yang timbul dari keturunan Genghis Khan. Genghis Khan adalah seorang penguasa yang pernah hidup dan tercatat oleh sejarah sebagai penguasa yang selain berhasil memperluas kekuasaannya dengan kekuatan militer juga sebagai seorang yang dianggap kejam karena untuk agresinya, ia telah mengorbankan banyak nyawa manusia dan penindasan serta lenyapnya suatu peradaban bangsa yang dijajahnya. Sepeninggal Genghis Khan yang memiliki darah keturunan Mongol ini, wilayahnya yang begitu luas dibagi kepada keempat orang putranya yaitu Jochi, Chaghtai, Oghtai, dah Touly. Dari keempat putranya inilah terbentuk dinasti-dinasti dan diantara dinasti keturunannya inilah nantinya peradaban Islam yang sebelumnya pernah dihancurkan oleh leluhurnya (Genghis Khan) dibangkitkan kembali oleh keturunannya, bahkan peradaban Islam pada masa kepemimpinan Ghazan Khan (seorang keturunan dari Dinasti Ilkhan) pernah memperoleh masa keemasan.

Ghazan Khan adalah seorang pemimpin muslim yang bijaksana dan adil. Dia adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Muhammad saw bahwa “Pemimpin-pemimpin pilihan diantara engkau semua ialah orang-orang yang engkau semua mencintai mereka dan mereka pun mencintaimu semua, juga yang engkau semua mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untukmu semua”[3]. Kecintaan Ghazan Khan pada rakyatnya dicerminkan dengan memakmurkan rakyatnya terutama dari golongan petani dan buruh kasar lainnya yang pada masa sebelumnya memperoleh penindasan berupa pemaksaan pembayaran pajak yang begitu besar dari pemimpin dan pejabat Negara sebelumnya.

 

Sejarah Kehidupan Ghazan Khan

Ghazan Khan adalah seorang pemimpin Dinasti Ilkhan yang lahir pada tahun 1271.[4] Pada saat dia lahir, Dinasti Ilkhan dipimpin oleh kakeknya yaitu Abaqa Khan[5]. Pada saat kecil, Ghazan telah diajari tentang ajaran-ajaran agama Budha oleh kakeknya. Kakeknya menitipkan Ghazan kepada biksu-biksu yang dianggap terbaik dinegerinya agar Ghazan dapat menerima dan memahami ajaran-ajaran Budha. Kecerdasan yang dimiliki oleh Ghazan merupakan suatu kebahagian yang diterima oleh guru-guru (biksu) yang mengajari Ghazan, karena dengan mudah Ghazan kecil menerima dan memahami ajaran-ajaran itu secara mendalam dan mencapai tingkatan yang baik menurut guru-gurunya.[6]

Pada usia 10 tahun, Ghazan diangkat menjadi Gubernur Khurasan (Mazandaran dan Ray), oleh ayahnya yang telah menjadi penguasa setelah menggantikan kakeknya.[7] Dengan kepandaian dan kebijaksanaan yang dimilikinya, Ghazan menjalankan tugasnya sebagai seorang Gubernur dengan sebaik-baiknya dibawah bimbingan Amir Nawroz yang selama 39 tahun telah menjalani hidupnya untuk melayani Chengis Khan dan keturunannya.[8] Banyak perselisihan yang telah dialami oleh Ghazan semasa menjabat sebagai Gubernur, baik perselisihan dengan wilayah-wilayah lain maupun perselisihan dengan sepupunya yang semua itu terjadi karena kekuasaan dan perebutan kekuasaan.

Ghazan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan setelah ia masuk Islam pada tahun 1295. Salah satu keterangan yang menyebutkan tentang masuk Islamnya Ghazan adalah “perubahan kepercayaannya terjadi ketika terjadi suatu perjanjian dan sebuah persetujuan pada masa Baydu, antara bangsa Mongol dan kaum Muslim Persia. Kaum Muslim bersumpah dengan Al-Qur’an dan orang Mongol bersumpah dengan emas. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog antara Nawroz dan Ghazan, membahas tentang agama Islam. Ghazan merasa gusar setelah melakukan pembicaraan mengenai agama Islam. Hal itu mungkin karena hatinya mulai tersentuh oleh tetesan-tetesan kesejukan dari ajaran Islam. Setelah peristiwa itu, Ghazan melakukan pembicaraan dengan Shekh Sadr al-Din yang merupakan salah seorang penasehat Ghazan yang memeluk Islam. Ghazan bertanya sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya mengenai ajaran agama Islam, dan Shekh Sadr al-Din menjelaskan pada Ghazan bahwa Islam adalah agama yang sangat kuat dan jelas, terdiri dari semua peraturan dan jalan hidup. Beliau juga menjelaskan tentang kebesaran Allah sebagai tuhan yang Esa dan keutamaan Muhammad sebagai Rasulullah dengan tanda-tanda kerasullannya yang dapat dengan jelas dilihat dan pasti kebenarannya di sepanjang zaman”.[9]

Penjelasan-penjelasan yang diterimanya membuat Ghazan semakin yakin tentang ajaran Islam dan pada tahun itu pula (1295) Ghazan mengakui keesaan Allah dan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan.

Setelah menjadi seorang pemimpin VII dari dinasti Ilkhan, Ghazan memberikan gelar pada dirinya “Ruler by the Grace of God (Penguasa Berkat Tuhan) dan berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dengan sebaik-baiknya untuk memimpin negaranya. Ghazan Khan naik tahta di persia pada usianya yang ke 24 tahun. Rakyat merasa simpati dan hidup nyaman dengan penerapan nilai-nilai Islam sebagai landasan Negara. Hal itu menimbulkan keterbukaan hati rakyat untuk memeluk Islam sebagai agama mereka sebagaimana juga agama yang dianut oleh pemimpin mereka itu. Pada masa Ghazan Khan, terjadi Islamisasi besar-besaran. Islamisasi yang terjadi bukan karena paksaan dan kekerasan, namun karena ketulusan hati mereka untuk memeluk Islam sebagai agama mereka dan menjalankan syariat Islam yang telah mereka rasakan memberikan kebahagiaan yang jelas terhadap kehidupan mereka sebagaimana yang telah dijalankan oleh Ghazan sebagai pemimpin mereka.

 

Permasalahan Ekonomi Pada Awal Pemerintahan Ghazan Khan

Awal Ghazan Khan menjadi seorang pemimpin, keadaan negerinya bukanlah dalam keadaan yang baik. Tatanan Negara yang di penuhi oleh pejabat-pejabat yang korup dan sewenang-wenang penuh dengan kecurangan untuk memperkaya diri sendiri membuat Negara berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Rakyat merasa ditindas dengan beratnya pajak yang harus ditanggung, sehingga mereka merasa lebih baik “mati” dari pada harus membayar pajak yang terus menerus melilit leher dan “membunuh” mereka secara perlahan-lahan.

Spuler menuliskan “Saat Ghazan naik tahta, kas Negara kosong. Harta yang diperoleh berlimpah hasil penaklukan Baghdad dicuri oleh penjaga, dan di gunakan semena-mena sebelum Ghazan (sejak Abaqa sampai Arghun), bahkan sampai saat Ghazan naik tahta, tidak tertinggal apa-apa”.[10] Kas Negara yang kosong tidak menurunkan mental Ghazan Khan untuk terus memimpin pemerintahannya. Mungkin Ghazan menganggap hal tersebut sebagai sebuah tantangan dan cobaan yang harus dilaluinya sebagai seorang pemimpin muslim.

Selain permasalahan finansial yang harus ia seleseaikan, permasalahan lain yang menimbulkan kesengsaraan rakyat seperti pemungutan pajak yang berlebihan, masalah keamanan yang ditimbulkan karena pemberontakan dan lemahnya kendali keamanan dalam negeri, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kesejahteraan Negara dan rakyatnya juga harus diselesaikan oleh Ghazan Khan.

Dengan dibantu oleh Rashid al-Din sebagai penasehat dan jurutulis yang selalu setia mendampingi, Ghazan secepat mungkin memulihkan kondisi ekonomi dan politik di negaranya. Rashid al-Din mencoba memeriksa kembali beberapa sistem keuangan dan perpajakan yang banyak disalahgunakan oleh pemimpn-pemimpin atau petugas-petugas negara sebelumnya. Pada saat sebelumnya, sistem keuangan tidak dicatat dengan baik, tidak ada perincian tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan. Hal itu sangat rentan menimbulkan penyalahgunaan keuangan oleh pihak-pihak tertentu dan memang hal itulah yang telah terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya. Para petugas perpajakan dapat seenaknya melakukan kecurangan-kecurangan sehingga pajak yang dikumpulkan dari rakyat tidak sampai ke pusat pemerintahan yang mengakibatkan keuangan Negara selalu berada dalam kondisi kekurangan, bahkan negara tidak mampu untuk membayar gaji para pegawai dan tentara tepat pada waktunya.

Oleh karena buruknya sifat para pejabat keuangan dan pajak yang terjadi, negara yang mengalami kekurangan anggaran tersebut mewajibkan pemungutan pajak terhadap para petani yang semakin lama semakin besar sehingga para petani merasa semakin menderita dan hasil panennya hanya digunakan untuk membayar pajak, namun tidak digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Keadaan para petani yang terjerat pajak ini di gambarkan oleh Rasyid al-Din sebagai berikut: “Kadang-kadang para petani melompat dari atap rumah setelah melihat para petugas pajak sedang datang kekampung mereka. Kadang-kadang para petani karena tergesa-gesa untuk menghindari para dinas pajak, melompat dari atap rumah sehingga mengakibatkan kaki mereka patah dan lumpuh.”[11]

Terdesaknya rakyat disana-sini menimbulkan kenekatan-kenekatan dari rakyat yang berujung pada tindakan-tindakan kejahatan yang terjadi disana-sini. Perampokan-perampokan oleh rakyat menyebabkan keadaan menjadi kurang terkendali menghiasi masa-masa awal diangkatnya Ghazan Khan naik tahta.

 

Kebijakan-Kebijakan Ekonomi Pada masa Ghazan Khan

Untuk menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi pada wilayah pemerintahannya, Ghazan Khan mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi dibantu oleh penasehat sekaligus sebagai jurutulisnya yang setia Rashid al-Din. Ghazan dan Rashid adalah dua orang manusia yang mencintai ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang meraka kuasai seperti dalam bidang Argonomi, Bahasa dan Sastra, Arsitektur, dan lain sebagainya.

Ghazan Khan mengenal betul sumberdaya yang dimiliki oleh bangsanya. Sumber daya utama yang ada di wilayahnya adalah lahan pertanian yang subur. Ghazan yang dibantu oleh Rashid setelah membangun suatu sistem keuangan yang lebih baik dan lebih terkontrol kemudian mengambil langkah untuk memotivasi para rakyatnya terutama dari golongan petani agar mau kembali menggarap sawah-sawahnya. Pada mulanya para petani enggan untuk menggarap sawah, karena pajak yang tinggi atas hasil pertanian. Kemudian dalam rangka memberikan motivasi pada para petani, Ghazan mengambil kebijakan dengan mengurangi pajak bagi hasil pertanian hingga seminimal mungkin bahkan memberikan bantuan bibit secara cuma-cuma kepada mereka. Karena pada saat itu keuangan Negara berada pada titik minimal, maka Ghazan memerintahkan kepada para pejabat negaranya yang memiliki kekayaan berlebih sebagai sponsor utama dari kebijakannya untuk menggalakan pertanian.

Pengelolaan hasil pertanian diperhatikan dengan baik oleh Ghazan. Dia menggunakan sistem manajemen yang baik untuk menyimpan dan mendistribusikan hasil pertanian, bahkan data tentang jenis-jenis komoditas pertanian dan peternakan ditata dengan sangat baik sehingga informasi tentang segala komoditas tersebut dapat diakses oleh seluruh golongan masyarakat dan kegiatan jual beli hasil komuditas dapat berjalan dengan effektif dan effisien. Kegiatan Ghazan dalam menyusun data komuditas ini mungkin serupa dengan apa yang diterapkan oleh Ilmu Manajemen saat ini atau yang sering disebut dengan Sistem Informasi Manajemen.

Selain pendataan yang baik, Ghazan juga melakukan kegiatan yang dalam Ilmu Manajemen saat ini sering disebut dengan Research and Development Program yaitu program yang dilakukan untuk lebih mengembangkan dan mempelajari inovasi-inovasi baru yang terkait dengan bidang pertanian dan perternakan. Ghazan mengirim banyak utusan ke China dan India untuk mengumpulkan bibit lokal dan membawanya kembali ke Tabriz, dimana jenis-jenis tanaman tersebut kemudian di kembangkan dan diusahakan untuk ditanam diwilayahnya.[12]

Keberhasilan Ghazan dalam membangun perekonomian yang telah hancur sebelumnya memperoleh hasil yang baik. Kehidupan ekonomi yang baik telah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga tingkat kriminalitas yang terjadi diwilayahnya dapat diminimalisir. Selain kebijakan dalam bidang ekonomi, Ghazan juga melakukan perbaikan-perbaikan dalam bidang hukum sehingga peradaban bangsa mongol saat dipimpin oleh Ghazan mencapai masa-masa keemasan.

 

Daftar Pustaka

Karim, Abdul. Islam di Asia Tengah: Sejarah Dinasti Mongol Islam, Yogyakarta: Bagaskara, 2006.

http://www.wikipedia.org

http://www.encyclopedia2.thefreedictionary.com

 


[2] ibid

[6] Abdul Karim. Islam di Asia Tengah, hal: 85

[7] Ibid, hal: 86

[8] ibid

[9] Ibid, hal: 87

[10] Ibid, hal: 107

[11] Spuler. History, hal: 146-147—ibid, hal: 108

[12] Abdul Karim. Islam di Asia Tengah, hal: 110

About these ads