Ghazan Khan: Sang Ekonom Jenius dari Ilkhan

Tinggalkan komentar

Ditulis oleh iariputra

Pendahuluan

Mempelajari Ilmu Ekonomi sering dikait-kaitkan dengan kemakmuran dan peradaban yang terjadi pada suatu masyarakat. Pada pemikiran-pemikiran elonomi konvensional, permasalahan ekonomi dianggap terjadi karena terjadinya ketidak seimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemenuh kebututuhan yang terbatas.

Istilah ekonomi yang berkembang saat ini berasal dari bahasa Yunani “oikos” yang berarti “keluarga (rumah tangga)” dan “nomos”, atau “peraturan/aturan/hukum”.[1] Dari kata tersebut dapat diperoleh makna kata “ekonomi” yaitu ilmu yang mempelajari tentang tatacara untuk mengatur rumah tangga atau dengan kata lain Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang berhubungan dengan manajemen rumah tangga.

Pembahasan Ilmu Ekonomi yang semula hanya digunakan untuk sekelompok kecil orang atau dalam suatu rumah tangga (mikro) kemudian berkembang meluas diterapkan untuk kelompok yang lebih besar seperti perekonomian dalam suatu wilayah atau negara (makro).

Pada pemikiran tentang Ilmu Ekonomi secara umum, Adam Smith sering disebut-sebut sebagai orang yang pertama mengembangkan ilmu ekonomi yaitu pada abad XVIII. Atas jasanya yang telah memfokuskan ilmu ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri ini, Adam Smith memperoleh sebutan sebagai “Bapak dari Ilmu Ekonomi”. Setelah Adam Smith, Ilmu Ekonomi dianggap baru memulai sejarahnya dan diiringi dengan lahirnya tokoh-tokoh ekonomi lainnya seperti Alfred Marshal, J.M. Keynes, Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps.[2]

Seperti itulah sejarah Ilmu Ekonomi yang berkembang pada masyarakat saat ini dengan memulai ukiran sejarahnya pada sang ekonom Adam Smith. Padahal sebelum Adam Smith mengemukakan Ilmu Ekonomi atau bahkan sebelum beliau lahir, Ilmu ekonomi telah diterapkan secara langsung oleh para tokoh dunia dan tercatat dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh yang berpengaruh dan membangun peradaban yang tinggi pada masanya.

Dari sudut pandang Islam, kegiatan ekonomi positif telah berlangsung setelah Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah sebagai Rasull-Nya untuk menyampaikan ajaran Tauhid. Muhammad saw selain menegakan Tauhid juga didalamnya menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam bermasyarakat dan bernegara. Dalam kegiatan ekonomi, Muhammad telah berhasil mengembangkan pasar dengan sifat dan peraturan-peraturan yang sesuai dengan ajaran yang diturunkan oleh Allah sehingga dapat menciptakan suatu kehidupan jual-beli yang adil dan tidak merugikan pihak lain. Selain menciptakan pasar, Muhammad juga menerapkan ilmu Ekonomi yang positif dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat Madinah saat itu.

Meloncat jauh dari catatan sejarah Islam, umat Islam juga pernah mencatat tentang peradaban Islam yang timbul dari keturunan Genghis Khan. Genghis Khan adalah seorang penguasa yang pernah hidup dan tercatat oleh sejarah sebagai penguasa yang selain berhasil memperluas kekuasaannya dengan kekuatan militer juga sebagai seorang yang dianggap kejam karena untuk agresinya, ia telah mengorbankan banyak nyawa manusia dan penindasan serta lenyapnya suatu peradaban bangsa yang dijajahnya. Sepeninggal Genghis Khan yang memiliki darah keturunan Mongol ini, wilayahnya yang begitu luas dibagi kepada keempat orang putranya yaitu Jochi, Chaghtai, Oghtai, dah Touly. Dari keempat putranya inilah terbentuk dinasti-dinasti dan diantara dinasti keturunannya inilah nantinya peradaban Islam yang sebelumnya pernah dihancurkan oleh leluhurnya (Genghis Khan) dibangkitkan kembali oleh keturunannya, bahkan peradaban Islam pada masa kepemimpinan Ghazan Khan (seorang keturunan dari Dinasti Ilkhan) pernah memperoleh masa keemasan.

Ghazan Khan adalah seorang pemimpin muslim yang bijaksana dan adil. Dia adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Muhammad saw bahwa “Pemimpin-pemimpin pilihan diantara engkau semua ialah orang-orang yang engkau semua mencintai mereka dan mereka pun mencintaimu semua, juga yang engkau semua mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untukmu semua”[3]. Kecintaan Ghazan Khan pada rakyatnya dicerminkan dengan memakmurkan rakyatnya terutama dari golongan petani dan buruh kasar lainnya yang pada masa sebelumnya memperoleh penindasan berupa pemaksaan pembayaran pajak yang begitu besar dari pemimpin dan pejabat Negara sebelumnya.

 

Sejarah Kehidupan Ghazan Khan

Ghazan Khan adalah seorang pemimpin Dinasti Ilkhan yang lahir pada tahun 1271.[4] Pada saat dia lahir, Dinasti Ilkhan dipimpin oleh kakeknya yaitu Abaqa Khan[5]. Pada saat kecil, Ghazan telah diajari tentang ajaran-ajaran agama Budha oleh kakeknya. Kakeknya menitipkan Ghazan kepada biksu-biksu yang dianggap terbaik dinegerinya agar Ghazan dapat menerima dan memahami ajaran-ajaran Budha. Kecerdasan yang dimiliki oleh Ghazan merupakan suatu kebahagian yang diterima oleh guru-guru (biksu) yang mengajari Ghazan, karena dengan mudah Ghazan kecil menerima dan memahami ajaran-ajaran itu secara mendalam dan mencapai tingkatan yang baik menurut guru-gurunya.[6]

Pada usia 10 tahun, Ghazan diangkat menjadi Gubernur Khurasan (Mazandaran dan Ray), oleh ayahnya yang telah menjadi penguasa setelah menggantikan kakeknya.[7] Dengan kepandaian dan kebijaksanaan yang dimilikinya, Ghazan menjalankan tugasnya sebagai seorang Gubernur dengan sebaik-baiknya dibawah bimbingan Amir Nawroz yang selama 39 tahun telah menjalani hidupnya untuk melayani Chengis Khan dan keturunannya.[8] Banyak perselisihan yang telah dialami oleh Ghazan semasa menjabat sebagai Gubernur, baik perselisihan dengan wilayah-wilayah lain maupun perselisihan dengan sepupunya yang semua itu terjadi karena kekuasaan dan perebutan kekuasaan.

Ghazan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan setelah ia masuk Islam pada tahun 1295. Salah satu keterangan yang menyebutkan tentang masuk Islamnya Ghazan adalah “perubahan kepercayaannya terjadi ketika terjadi suatu perjanjian dan sebuah persetujuan pada masa Baydu, antara bangsa Mongol dan kaum Muslim Persia. Kaum Muslim bersumpah dengan Al-Qur’an dan orang Mongol bersumpah dengan emas. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog antara Nawroz dan Ghazan, membahas tentang agama Islam. Ghazan merasa gusar setelah melakukan pembicaraan mengenai agama Islam. Hal itu mungkin karena hatinya mulai tersentuh oleh tetesan-tetesan kesejukan dari ajaran Islam. Setelah peristiwa itu, Ghazan melakukan pembicaraan dengan Shekh Sadr al-Din yang merupakan salah seorang penasehat Ghazan yang memeluk Islam. Ghazan bertanya sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya mengenai ajaran agama Islam, dan Shekh Sadr al-Din menjelaskan pada Ghazan bahwa Islam adalah agama yang sangat kuat dan jelas, terdiri dari semua peraturan dan jalan hidup. Beliau juga menjelaskan tentang kebesaran Allah sebagai tuhan yang Esa dan keutamaan Muhammad sebagai Rasulullah dengan tanda-tanda kerasullannya yang dapat dengan jelas dilihat dan pasti kebenarannya di sepanjang zaman”.[9]

Penjelasan-penjelasan yang diterimanya membuat Ghazan semakin yakin tentang ajaran Islam dan pada tahun itu pula (1295) Ghazan mengakui keesaan Allah dan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan.

Setelah menjadi seorang pemimpin VII dari dinasti Ilkhan, Ghazan memberikan gelar pada dirinya “Ruler by the Grace of God (Penguasa Berkat Tuhan) dan berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dengan sebaik-baiknya untuk memimpin negaranya. Ghazan Khan naik tahta di persia pada usianya yang ke 24 tahun. Rakyat merasa simpati dan hidup nyaman dengan penerapan nilai-nilai Islam sebagai landasan Negara. Hal itu menimbulkan keterbukaan hati rakyat untuk memeluk Islam sebagai agama mereka sebagaimana juga agama yang dianut oleh pemimpin mereka itu. Pada masa Ghazan Khan, terjadi Islamisasi besar-besaran. Islamisasi yang terjadi bukan karena paksaan dan kekerasan, namun karena ketulusan hati mereka untuk memeluk Islam sebagai agama mereka dan menjalankan syariat Islam yang telah mereka rasakan memberikan kebahagiaan yang jelas terhadap kehidupan mereka sebagaimana yang telah dijalankan oleh Ghazan sebagai pemimpin mereka.

 

Permasalahan Ekonomi Pada Awal Pemerintahan Ghazan Khan

Awal Ghazan Khan menjadi seorang pemimpin, keadaan negerinya bukanlah dalam keadaan yang baik. Tatanan Negara yang di penuhi oleh pejabat-pejabat yang korup dan sewenang-wenang penuh dengan kecurangan untuk memperkaya diri sendiri membuat Negara berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Rakyat merasa ditindas dengan beratnya pajak yang harus ditanggung, sehingga mereka merasa lebih baik “mati” dari pada harus membayar pajak yang terus menerus melilit leher dan “membunuh” mereka secara perlahan-lahan.

Spuler menuliskan “Saat Ghazan naik tahta, kas Negara kosong. Harta yang diperoleh berlimpah hasil penaklukan Baghdad dicuri oleh penjaga, dan di gunakan semena-mena sebelum Ghazan (sejak Abaqa sampai Arghun), bahkan sampai saat Ghazan naik tahta, tidak tertinggal apa-apa”.[10] Kas Negara yang kosong tidak menurunkan mental Ghazan Khan untuk terus memimpin pemerintahannya. Mungkin Ghazan menganggap hal tersebut sebagai sebuah tantangan dan cobaan yang harus dilaluinya sebagai seorang pemimpin muslim.

Selain permasalahan finansial yang harus ia seleseaikan, permasalahan lain yang menimbulkan kesengsaraan rakyat seperti pemungutan pajak yang berlebihan, masalah keamanan yang ditimbulkan karena pemberontakan dan lemahnya kendali keamanan dalam negeri, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kesejahteraan Negara dan rakyatnya juga harus diselesaikan oleh Ghazan Khan.

Dengan dibantu oleh Rashid al-Din sebagai penasehat dan jurutulis yang selalu setia mendampingi, Ghazan secepat mungkin memulihkan kondisi ekonomi dan politik di negaranya. Rashid al-Din mencoba memeriksa kembali beberapa sistem keuangan dan perpajakan yang banyak disalahgunakan oleh pemimpn-pemimpin atau petugas-petugas negara sebelumnya. Pada saat sebelumnya, sistem keuangan tidak dicatat dengan baik, tidak ada perincian tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan. Hal itu sangat rentan menimbulkan penyalahgunaan keuangan oleh pihak-pihak tertentu dan memang hal itulah yang telah terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya. Para petugas perpajakan dapat seenaknya melakukan kecurangan-kecurangan sehingga pajak yang dikumpulkan dari rakyat tidak sampai ke pusat pemerintahan yang mengakibatkan keuangan Negara selalu berada dalam kondisi kekurangan, bahkan negara tidak mampu untuk membayar gaji para pegawai dan tentara tepat pada waktunya.

Oleh karena buruknya sifat para pejabat keuangan dan pajak yang terjadi, negara yang mengalami kekurangan anggaran tersebut mewajibkan pemungutan pajak terhadap para petani yang semakin lama semakin besar sehingga para petani merasa semakin menderita dan hasil panennya hanya digunakan untuk membayar pajak, namun tidak digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Keadaan para petani yang terjerat pajak ini di gambarkan oleh Rasyid al-Din sebagai berikut: “Kadang-kadang para petani melompat dari atap rumah setelah melihat para petugas pajak sedang datang kekampung mereka. Kadang-kadang para petani karena tergesa-gesa untuk menghindari para dinas pajak, melompat dari atap rumah sehingga mengakibatkan kaki mereka patah dan lumpuh.”[11]

Terdesaknya rakyat disana-sini menimbulkan kenekatan-kenekatan dari rakyat yang berujung pada tindakan-tindakan kejahatan yang terjadi disana-sini. Perampokan-perampokan oleh rakyat menyebabkan keadaan menjadi kurang terkendali menghiasi masa-masa awal diangkatnya Ghazan Khan naik tahta.

 

Kebijakan-Kebijakan Ekonomi Pada masa Ghazan Khan

Untuk menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi pada wilayah pemerintahannya, Ghazan Khan mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi dibantu oleh penasehat sekaligus sebagai jurutulisnya yang setia Rashid al-Din. Ghazan dan Rashid adalah dua orang manusia yang mencintai ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang meraka kuasai seperti dalam bidang Argonomi, Bahasa dan Sastra, Arsitektur, dan lain sebagainya.

Ghazan Khan mengenal betul sumberdaya yang dimiliki oleh bangsanya. Sumber daya utama yang ada di wilayahnya adalah lahan pertanian yang subur. Ghazan yang dibantu oleh Rashid setelah membangun suatu sistem keuangan yang lebih baik dan lebih terkontrol kemudian mengambil langkah untuk memotivasi para rakyatnya terutama dari golongan petani agar mau kembali menggarap sawah-sawahnya. Pada mulanya para petani enggan untuk menggarap sawah, karena pajak yang tinggi atas hasil pertanian. Kemudian dalam rangka memberikan motivasi pada para petani, Ghazan mengambil kebijakan dengan mengurangi pajak bagi hasil pertanian hingga seminimal mungkin bahkan memberikan bantuan bibit secara cuma-cuma kepada mereka. Karena pada saat itu keuangan Negara berada pada titik minimal, maka Ghazan memerintahkan kepada para pejabat negaranya yang memiliki kekayaan berlebih sebagai sponsor utama dari kebijakannya untuk menggalakan pertanian.

Pengelolaan hasil pertanian diperhatikan dengan baik oleh Ghazan. Dia menggunakan sistem manajemen yang baik untuk menyimpan dan mendistribusikan hasil pertanian, bahkan data tentang jenis-jenis komoditas pertanian dan peternakan ditata dengan sangat baik sehingga informasi tentang segala komoditas tersebut dapat diakses oleh seluruh golongan masyarakat dan kegiatan jual beli hasil komuditas dapat berjalan dengan effektif dan effisien. Kegiatan Ghazan dalam menyusun data komuditas ini mungkin serupa dengan apa yang diterapkan oleh Ilmu Manajemen saat ini atau yang sering disebut dengan Sistem Informasi Manajemen.

Selain pendataan yang baik, Ghazan juga melakukan kegiatan yang dalam Ilmu Manajemen saat ini sering disebut dengan Research and Development Program yaitu program yang dilakukan untuk lebih mengembangkan dan mempelajari inovasi-inovasi baru yang terkait dengan bidang pertanian dan perternakan. Ghazan mengirim banyak utusan ke China dan India untuk mengumpulkan bibit lokal dan membawanya kembali ke Tabriz, dimana jenis-jenis tanaman tersebut kemudian di kembangkan dan diusahakan untuk ditanam diwilayahnya.[12]

Keberhasilan Ghazan dalam membangun perekonomian yang telah hancur sebelumnya memperoleh hasil yang baik. Kehidupan ekonomi yang baik telah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga tingkat kriminalitas yang terjadi diwilayahnya dapat diminimalisir. Selain kebijakan dalam bidang ekonomi, Ghazan juga melakukan perbaikan-perbaikan dalam bidang hukum sehingga peradaban bangsa mongol saat dipimpin oleh Ghazan mencapai masa-masa keemasan.

 

Daftar Pustaka

Karim, Abdul. Islam di Asia Tengah: Sejarah Dinasti Mongol Islam, Yogyakarta: Bagaskara, 2006.

http://www.wikipedia.org

http://www.encyclopedia2.thefreedictionary.com

 


[2] ibid

[6] Abdul Karim. Islam di Asia Tengah, hal: 85

[7] Ibid, hal: 86

[8] ibid

[9] Ibid, hal: 87

[10] Ibid, hal: 107

[11] Spuler. History, hal: 146-147—ibid, hal: 108

[12] Abdul Karim. Islam di Asia Tengah, hal: 110

Sejarah Pemeliharaan Al-Qur’an

Tinggalkan komentar

Artikel ini dikutip dari “Al-Qur’an: Sejarah Turun, Penulisan, dan Pemeliharaannya” Oleh: Muhammad Riyanto, Uji Ngakibah, dan Mardatillah.

Pemeliharaan Al-Qur’an di Masa Nabi SAW
Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi SAW terbagi atas dua cara, yaitu:

  1. Pengumpulan dalam dada, dengan cara menghapal, menghayati dan mengamalkan.
    Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Karena itu, perhatian Nabi hanyalah untuk sekedar menghapal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an diturunkan. Setelah itu, ia membacakannya kepada umatnya sejelas mungkin agar mereka pun dapat menghapal dan memantapkannya.
    Nabi SAW memiliki keinginan untuk menguasai Al-Qur’an, sehingga beliau menghiasi salat malamnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Rasul menjadi seorang yang paling menguasai Al-Qur’an. Beliau bisa mengabdikan (menghimpun) Al-Qur’an dalam hatinya yang mulia. Beliau menjadi tumpuan bagi orang-orang Islam dalam memecahkan masalah yang mereka perlukan sehubungan masalah Al-Qur’an.
  2. Pengumpulan dalam dokumen, dengan cara menulis dalam kitab, atau diwujudkan dalam bentuk ukiran.
    Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’an Karim adalah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap Al-Qur’an, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghapalan dan memperkuat daya ingat.
    Para penulis wahyu tersebut adalah sahabat pilihan Rasul dari kalangan sahabat yang terbaik dan indah tulisannya sehingga mereka benar-benar dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantaranya adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Muawiyah bin Abu Sufyan, Khulafaur Rashidin dan sahabat-sahabat lain. Proses penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi SAW sangat sederhana. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaran kayu, pelepah kurma, tulang belulang dan batu. Kegiatan tulis-menulis Al-Qur’an pada masa Nabi disamping dilakukan oleh sekretaris Nabi, juga dilakukan oleh sahabat lain.
    Sebagaimana Hadits Nabi yang diriwayatkan Muslim: ”Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dariku, kecuali Al-Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya”.
    Faktor yang mendorong penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi SAW adalah: membukukan hapalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna. Hal ini karena hapalan para sahabat saja tidak cukup, terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka ada yang sudah wafat. Adapun tulisan akan tetap terpelihara walaupun pada masa Nabi, penulisan Al-Qur’an tidaklah pada satu tempat.
    Penulisan Al-Qur’an tidak pada satu tempat berdasarkan proses penurunan Al-Qur’an masih berlanjut sehingga ada kemungkinan ayat yang turun belakangan “menghapus” redaksi dan ketentuan hukum ayat yang sudah turun terdahulu. Penyusunan ayat dan surat Al-Qur’an tidak bertolak dari kronologi turunnya, tetapi bertolak dari keserasian antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau antara satu surat dengan surat yang lain. Terkadang ayat atau surat yang turun belakangan ditulis lebih dahulu ketimbang ayat atau surat yang turun terlebih dahulu.

Pemeliharaan Al Qur’an di Masa Abu Bakar ra.
Ketika Rasulullah SAW meninggal, Al Qur’an belum dihimpun di dalam satu mushaf karena masih menunggu kemungkinan adanya penghabisan sebagian hukum dan tilawahnya. Ketika penurunan wahyu sudah terputus dengan meninggalnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan kepada para khalifah yang terpimpin melakukan penghimpunan Al Qur’an. Saat itu kondisi yang ada Al Qur’an hanya dihapal oleh para sahabat dan orang-orang yang terpilih, maka sesuai dengan janji Allah SWT yang akan menjamin keterpeliharaannya bagi ummat ini.
Pada hakekatnya Al Quran juga telah dihimpun pada masa Rasulullah SAW atas petunjuk Jibril kepadanya, kemudian yang kedua masa Abu Bakar al-Shiddiq dan ketiganya pada masa Usman bin Affan dengan penerbitan surat-suratnya. Pada masa Rasulullah SAW terdapat beberapa sahabat yang bertugas sebagai penulis wahyu. Apabila diturunkan ayat-ayat Al Qur’an, Nabi memanggil mereka agar menulisnya diatas sarana penulisan yang ada pada satu naskah untuk disimpan di tempat Nabi SAW dan yang lainnya untuk penulis itu sendiri. Pada waktu Nabi SAW meninggal, lembaran-lembaran tulisan itu dan yang lainnya berada pada istri-istri beliau. Diceritakan bahwa Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Abu Bakar ra memintaku datang berkenan dengan kematian para sahabat di peristiwa Yamamah, pada saat itu Umar ra berada di sisinya, lalu Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya Umar ra datang kepadaku mengatakan bahwa para penghapal Al Qur’an banyak terbunuh di peristiwa Yamamah dan sesungguhnya aku khawatir akan terbunuhnya para penghapal Al Qur’an (yang masih ada ini) di berbagai tempat lalu dengan itu banyak bagian Al Qur’an yang hilang; karena itu aku mengusulkan agar kamu memerintahkan penghimpunan Al Qur’an. Kemudian aku berkata pada Umar : “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW? Lalu Umar berkata ; “Demi Allah, ini adalah kebaikan”. Maka Umar pun terus mendesakku sehingga Allah SWT melapangkan dadaku untuk itu dan aku (sekarang) sependapat dengan Umar. Zaid berkata bahwa, “Abu Bakar berkata : Sesungguhnya kamu adalah pemuda yang bijaksana, kami tidak menyangsikanmu, karena kamu pernah menjadi penulis wahyu bagi Nabi SAW maka periksalah Al Qur’an dan himpunlah”. Demi Allah, seandainya mereka menugasiku untuk memindahkan salah satu gunung, sungguh itu tidaklah lebih berat bagiku ketimbang apa yang ia perintahkan kepadaku yaitu menghimpun Al-Qur’an”.

Jati diri Zaid bin Tsabit sendiri begitu istimewa sehingga tak heran Abu Bakar dan Umar diberikan kelapangan dada untuk memberikan tugas tersebut pada Zaid bin Tsabit, yang mana sebagai pengumpul dan pengawas komisi ini Zaid bin Tsabit dibantu Umar sebagai sahibul fikrah yakni pembantu khusus. Beberapa keistimewaan tersebut diantaranya adalah :

  • Berusia muda, saat itu usianya di awal 20-an (secara fisik & psikis kondisi prima)
  • Akhlak yang tak pernah tercemar, ini terlihat dari pengakuan Abu Bakar yang mengatakan bahwa, “Kami tidak pernah memiliki prasangka negatif terhadap anda”.
  • Kedekatannya dengan Rasulullah SAW, karena semasa hidup Nabi, Zaid tinggal berdekatan dengan beliau.
  • Pengalamannya di masa Rasulullah SAW masih hidup sebagai penulis wahyu dan dalam satu kondisi tertentu pernah Zaid berada di antara beberapa sahabat yang sempat mendengar bacaan Al Qur’an malaikat jibril bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan.
  • Kecerdasan yang dimilikinya menunjukkan bahwa tidak hanya karena memiliki vitalitas dan energi namun kompetensinya dalam kecerdasan spiritual dan intelektual

Di sebutkan Abu Bakar ra mengatakan pada Zaid, “Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah SWT dengan kesaksian 2 orang maka tulislah. Hal ini bermakna bahwa kesaksian 2 orang saksi erat hubungannya dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis dimana Qur’an diwahyukan. Bukan itu saja 2 orang sahabat tersebut juga menyaksikan bahwa orang yang menerima ayat tersebut seperti yang diperdengarkan Rasulullah SAW. Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi bukan hanya berdasarkan hafalan semata-mata.

Waktu pengumpulan Zaid terhadap Al Qur’an sendiri sekitar 1 tahun, ini dikarenakan dalam mengerjakannya Zaid sangat hati-hati sekalipun ia seorang pencatat wahyu yang utama dan hafal seluruh Al Qur’an. Dalam melakukan pekerjaannya ini Zaid berpegangan pada :
a. Ayat-ayat Al Qur’an yang ditulis di hadapan Nabi Muhammad SAW dan yang disimpan di rumahnya
b. Ayat-ayat yang dihafal oleh para sahabat yang hapal Al Qur’an

Buah hasil kerja Zaid sangat teliti dan hati-hati sehingga memiliki akurasi yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan :
a. Menulis hanya ayat Al Qur’an yang telah disepakati mutawatir riwayatnya
b. Mencakup semua ayat Al Qur’an yang tidak mansukh at-tilawah
c. Susunan ayatnya seperti yang dapat kita baca pada ayat-ayat yang tersusun dalam Al Qur’an sekarang ini
d. Tulisannya mencakup al-ahruf al-sab’ah sebagaimana Al Qur’an itu diturunkan
e. Membuang segala tulisan yang tidak termasuk bagian dari Al Qur’an

Senada dengan itu, Az Zargani menyebutkan bahwa ciri-ciri penulisan Al Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar ini adalah :
a. Seluruh ayat Al Qur’an dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama
b. Tidak termasuk di dalamnya ayat-ayat Al Qur’an yang telah mansukh atau di nasakh bacaannya
c. Seluruh ayat Al Qur’an yang ditulis di dalamnya telah diakui kemutawatirannya
Kekhusususan hasil kerja Zaid sendiri membedakan dengan catatan para sahabat yang menjadi dokumentasi pribadi. Catatan mereka yang masih mencakup ayat-ayat yang mansukh at-tilawah, ayat-ayat yang termasuk kategori riwayat al-ahad, catatan doa dan tulisan yang diklasifikasikan sebagai sebagai tafsir dan takwil.

“Maka sebagaimana Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar sebelumnya dan akhirnya Allah pulalah yang melapangkan dadaku maka aku periksa Al Qur’an dan aku menghimpunnya dari pelepah kurma, batu-batu tulis dan dada-dada para sahabat sehingga aku mendapati akhir surat At-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; aku tidak mendapatkannya pada sahabat lainnya, yaitu ayat laqad ja’akum rasulu(n)….. sampai akhirAt-Taubah”. Maka mushaf-mushaf itu disimpan oleh Abu Bakar sampai ia meninggal kemudian disimpan oleh Umar sampai ia meninggal dan selanjutnya disimpan oleh Hafsah binti Umar.

Pemeliharaan al-Qur’an dari Masa Usman bin Affan ra – Kini
Pada masa khalifahan Usman bin Affan ra umat Islam mulai menyebarkan jihad Islam ke arah utara sampai Azerbaijan dan Armenia. Berasal dari suku kabilah dan provinsi yang beragama sejak awal pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan. Nabi Muhammad SAW sendiri memang telah mengajarkan membaca Al Qur’an berdasarkan dialek mereka masing-masing lantaran dirasa sulit untuk meninggalkan dialek mereka secara spontan. Namun kemudian adanya perbedaan dalam penyebutan atau membaca Al Qur’an yang kemudian menimbulkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa Hudzaifah bin al-Yaman pernah datang kepada Usman, waktu itu Hudzaifah memimpin penduduk Syam dan Iraq dalam menaklukkan Armenia dan Azarbaijan, maka ia terkejut oleh perselisihan mereka (antara penduduk Syam dan Iraq) dalam qira’ah 135, lalu ia berkata pada Usman, “Selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih sebagaimana perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka Usman meminta pada Hafsah agar meminjamkan mushaf-nya untuk ditranskrip dalam beberapa mushaf kemudian Usman meminta pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin al-Zubair, Sa’d bin Abi Waqqashdan Abdul Rahman bin al-Harits bin Hisyamlalu mereka pun menterjemahkan kepada beberapa mushaf . Usman berkata kepada kepada 3 tokoh Quraisy tersebut, “ Apabila kalian bertiga berselisih dengan Zaid tentang sesuatu dari Al Qur’an maka tulislah ia dengan bahasa Quraisy karena ia diturunkan dengan bahasa mereka. Pesan ini mereka lakukan dengan baik. Kemudian setelah penulisan beberapa mushaf tersebut maka dikirimkan setiap mushaf ke berbagai pusat Islam, masing-masing salinan Al Qur’an ini disediakan sebagai otoritas rujukan bagi masyarakat yang dari situ mereka membuat lagi salinannya dan kepadanya mereka merujukkan bila muncul perbedaan pembacaan mushaf antar kota. Adapun mushaf di Madinah sebagai mushaf al-Iman yang menjadi rujukan terakhir umat Islam.

Ide tentang penyeragaman bacaan Al Qur’an sendiri digulirkan sahabat Huzaifah bin al Yaman. Kesaksian Huzaifah tentang perselisihan umat Islam disebabkan perbedaan bacaan ditanggapi oleh Usman dengan positif. Ia menyadari bahwa perbedaan bacaan ini muncul lantaran adanya perbedaan bacaan para guru yang mengajarinya berpangkal pada beberapa alternatif yang dimunculkan oleh sab’atu ahruf. Dalam kaitan ini seperti yang dikutip Sirojuddin dalam Nur Faizah berkata bahwa Usman tidak bermaksud seperti maksud Abu bakar dalam mengumpulkan Al Qur’an namun hanya ingin menyatukan versi qira’at umat Islam ke dalam qiraat tetap yang diketahui berasal dari Rasulullah SAW serta membatalkan berbagai qiraat yang bukan dari beliau. Sehingga Usman telah memberikan ruang ragam dialeknya menjadi satu dialek saja yakni dialek quraisy.
Adapun mushaf Hafsah binti Umar kelak dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan bin Hakam dari Dinasti Umayyah. Tindakan Marwan dilakukan demi mengamankan keseragaman mushaf Al Qur’an yang telah diupayakan oleh Khalifah Usman serta untuk menghindari keragu-raguan umat Islam di masa yang akan datang terhadap mushaf Al Qur’an jika masih terdapat dua macam mushaf yakni mushaf Usman dan mushaf Hafsah.

Az Zargani sendiri mencatat bahwa ciri-ciri mushaf yang disalin pada Khalifah Usman adalah sebagai berikut :
a. Ayat-ayat Al Qur’an yang tertulis di dalamnya seluruhnya berdasarkan riwayat yang mutawwir berasal dari Rasulullah
b. Tidak terdapat di dalamnya ayat-ayat Al Quran yang mansukh atau dinasakh bacaannya
c. Susunan menurut urutan wahyu
d. Tidak terdapat di dalamnya yang tidak tergolong pada Al Qur’an seperti apa yang ditulis oleh sebagian sahabat dalam mushaf masing-masing sebagai penjelasan atau keterangan terhadap ayat-ayat tertentu
e. Mushaf yang ditulis pada masa khalifah usman tersebut mencakup “tujuh huruf” dimana Al Qur’an diturunkan dengannya

Dari penjelasan ini maka periodesasi pengumpulan Al Quran tersebut terdapat perbedaan yang prinsipil yang diutarakan oleh Az Zargani yakni:
a. Penulisan Al Qur’an pada masa Nabi Muhammad dilakukan untuk mencatat dan menulis setiap wahyu yang diturunkan kepadanya dengan menertibkan ayat-ayat di dalam surah-surah tertentu sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW
b. Saat khalifah Abu Bakar pengumpulan tulisan-tulisan Al Quran menurut urutan turunnya wahyu, dikarenakan kekhawatiran banyaknya penghafal Qur’an yang meninggal dalam peperangan
c. Saat khalifah Usman dilakukan penyalinan mushaf menjadi beberapa mushaf dengan tertib ayat maupun surahnya sebagaimana yang ada sekarang, dikarenakan adanya perpecahan dikalangan umat Islam dipicu oleh perbedaan qiraat Al Qur’an

Kondisi umat Islam sesudah adanya mushaf yang dilakukan pada khalifah Usman sendiri sangat hati-hati, cermat dan teliti ketika menyalin dengan bahasa mereka. Salah satunya terlihat pada gubernur Mesir Abdul Aziz ibn Marwan yang menyuruh orang untuk menunjukkan bahwa suatu kesalahan dalam salinan tersebut jika terjadi kesalahan maka berikan padanya seekor kuda dan 30 dinar, diantaranya yang memeriksa adalah seorang qori yang dapat menunjukkan suatu kesalahan yaitu kesalahan naj’ah padahal sebenarnya na’jah.

Mushaf Usmani tidak memakai tanda baca seperti titik dan syakal karena semata-mata didasarkan pada watak pembawaan orang-orang Arab murni di mana mereka tidak memerlukan syakal, titik dan tanda baca lainnya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada masa itu tulisan hanya terdiri atas beberapa simbol dasar, hanya melukiskan struktur konsonan dari sebuah kata yang sering menimbulkan kekaburan lantaran hanya berbentuk garis lurus semata.

Ketika bahasa Arab mulai mendapat berbagai pengaruh dari luar karena bercampur dengan bahasa lainnya maka para penguasa mulai melakukan perbaikan-perbaikan yang membantu cara membaca yang benar. Perlunya pembubuhan tanda baca dalam penulisan Qur’an mulai dirasakan ketika Ziyad bin Samiyah menjadi gubernur Basrah pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan (661-680M). Ia melihat telah terjadi kesalahan di kalangan kaum muslimin dalam membaca Al qur’an. Sebagai contoh kesalahan dalam membaca firma Allah SWT dalam surat 9:3 . Melihat kenyataan seperti itu Ziyad meminta Abu al-Aswad al Duali untuk memberikan syakal. Ia memberi tanda fathah atau tanda bunyi (a) dengan membubuhkan tanda titik satu di atas huruf, tanda kasrah atau tanda bunyi (i) dengan membubuhkan tanda titik satu dibawah huruf, tanda dammah atau tanda bunyi (u) dengan membubuhkan tanda titik satu terletak di antara bagian-bagian huruf sementara tanda sukun atau tanda konsonan (huruf mati) ditulis dengan cara tidak membubuhkan tanda apa-apa pada huruf yang bersangkutan

Kemudian tanda baca Abu Al-Aswad tersebut disempurnakan lagi oleh ulama sesudahnya pada masa dinasti Abbasiyah yaitu oleh al-Khalil bin Ahmad. Ia bersependapat bahwa asal usul fathah ialah alif, kasrah dan ya dan dammah adalah wawu. Kemudian fathah dilambangkan dengan tanda sempang di atas huruf, kasrah di bawah huruf dan dammah dengan wawu kecil di atas huruf sedangkan tanwin dengan mendobelkannya. Ia juga memberi tanda pada tempat alif yang dibuang dengan warna merah, pada tempat hamzah yang dibuang dengan hamzah warna merah tanpa huruf. Pada nun dan tanwin yang berhadapan dengan huruf ba diberi tanda iqlab dengan warna merah. Nun dan tanwin berhadapan dengan huruf halqiyah diberi tanda sukun dengan warna merah.
Begitu pula pada masa khalifah Bani Umayyah yang kelima, Abdul Malik bin Marwan memerintahkan seorang ulama bernama al-Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi untuk menciptakan tanda-tanda huruf Qur’an. Untuk mewujudkan hal tesebut diberikan tugas tersebut al-Hajjaj menugaskan kepada Nasr bin Ashin dan Yahya bin Ya’mur. Akhirnya mereka berhasil menciptakan tanda-tanda pada huruf Al Qur’an dengan membubuhkan titik pada huruf-huruf yang serupa untuk membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, huruf dal dengan huruf zal, huruf ba dengan huruf ta dan huruf sa. Demikianlah huruf-huruf sebagaimana yang kita kenal seperti saat ini.
Jadi tampak bahwa perbaikan Rasm al-Usmani terjadi melalui tiga proses yakni :
1. Pemberian syakal yang dilakukan oleh Abu al-Aswad al-Duali
2. Pemberian a’jam, titik yang dilakukan oleh Abdul Malik bin Marwan dan al-Hajjaj
3. Perubahan syakal pemberian Abu al-Aswad ad-Duali menjadi seperti sekarang ini yang dilakukan oleh al-Khalil

Al Qur’an sendiri pertama kali dicetak di Hamburg Jerman pada 1113H. Salah satu mushaf hasil cetakan pertama ini konon terdapat di Dar al-Kutub al-Arabiyah, Kairo Mesir. Sementara di Turki pertama kali dicetak pada 1129H kemudian menyusul di Iran 1248H. Madinah saat ini terdapat percetakan Al Qur’an yang diklaim terbesar di dunia. Percetakan itu mulai dibangun oleh Raja Fahd pada tanggal 2 November 1982. Pada Oktober 1984 dimulai diproduksi dengan berbagai ukuran, dengan komplek yang lengkap mulai dari masjid, show room produksi sekaligus toko tempat penjualan, asrama karyawan, klinik dan perpustakaan.

Percetakan ini juga mencetak dan menterjemahkan al-Qur’an ke dalam 50 bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia. Al Qur’an disini dicetak di percetakan dan dibagikan secara gratis ke seluruh dunia seperti melalui masjid-masjid. Demikian juga yang dibagikan kepada jamaah haji, mereka akan mendapatkan Al Qur’an secara gratis pada waktu hendak naik pesawat terbang untuk kembali ke negeri mereka masing-masing.

Daftar Pustaka:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, edisi Indonesia: Bagaimana Kita Memahami Al-Qur’an, penerjemah: Muhammad Qawwam, LC., Abu Luqman, penerbit: Cahaya Tauhid Press Malang, cet. ke-1 Muharram 1427H/Pebruari 2006M, hal. 33-38,

Anwar,R. 1998. Ulumul Qur-an. Pustaka Setia, Bandung.

Az Zargani t.t Manahil al-Irfan fi Ulum al Qur’an juz 1. Mesir: Isa al Babiy al Halabiy

Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab ; Ziyaadatul Iman Wa Nuqshaanuhu (Bertambah dan berkurangnya keimanan), hadits nomor 45, Muslim, Kitab At-Tafsir, Bab Fii Tafsiri Aayaatin Mutafarriqah, hadits nomor 3015

Imam As-Suyuthi, 1995. Apa itu Al Qur’an. Gema Insani Press. Jakarta

Hudhari Bik, 1980. Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah)

Nur Faizah, 2008. Sejarah Al Quran . CV. Artha Rivera. Jakarta.

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah. Al-Madkhal li Dinasat al-Quran al Karim. Kairo: Al-maktabah al-Sunnah

Muhammad Ali Ash-Shaabuniy (Alih Bahasa : Drs. H. Aminuddin) Studi Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Setia.1999,

Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. 2000. Sejarah & Pengantar Ilmu Al Qur’an dan Tafsir. PT.Pustaka Rizki Putera. Semarang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy

Subhi Ash-Shalih, 1988. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin Bairut

Zuhdi, M. 1997. Pengantar Ulumul Quran. Karya Abditama. Surabaya

Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Tinggalkan komentar

Dikutip dari makalah “Al-Qur’an: Sejarah Turunnya, Penulisannya, dan Pemeliharaanya” Oleh: Muhammad Riyanto, Uji Ngakibah, Mardatillah.

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Kalam Illahi yang tidak bakal lapuk oleh waktu dan zaman. Tak lain, karena Allah azza wa jalla sendiri yang menjamin pemeliharaannya. Hal ini agaknya tak disangsikan lagi. Dan telah diterima umat sebagai ‘publik truth”, yang telah menjadi ‘faith system’. Walaupun demikian untuk dapat menjadikan  Al Qur’an sebagai Kalam Illahi bukan hanya sekedar sumber-sumber norma keimanan maka perlu membumikan Al Qur’an agar pemeliharaan bagi umat manusia sebagai khalifah bumi dapat terus terlaksana. Dalam rangka lebih mengenal Al Qur’an sebagai agar pemeliharaan dan pengamalannya tidak hanya sebatas kewajiban ada baiknya diketahui bagaimana sejarah Nuzul Al Qur’an itu sendiri sejak jaman Nabi Muhammad SAW sampai saat ini.

Sejarah turunnya Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun  2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 dhulhijjah Haji wada’ tahun  63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.[1]Permulaan turunnya Al-Qur’an ketika Nabi SAW bertahannus (beribadah) di Gua Hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan perantara Jibril Al-Amin dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an Hakim. Surat yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Sebelum wahyu diturunkan telah turun sebagian irhas (tanda dan dalil) sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dengan sanad dari Aisyah yang menunjukkan akan datangnya wahyu dan bukti nubuwwah bagi rasul SAW yang mulia. Diantara tanda-tanda tersebut adalah mimpi yang benar di kala beliau tidur dan kecintaan beliau untuk menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya.

Al-Qur’an diturunkan  pada bulan ramadhan berdasarkan nash yang  jelas yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah  ayat 185 :

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap, yaitu : [2]

  1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh[3] yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruuj : 21-22
    Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al- Qur’an  yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
    dan Q.S Al-Waqi’ah :77-80 yang artinya : ”Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan,  Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
  2. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia. Diisyaratkan dalam: Q.S Al-Qadar: 1, ”Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.
    dan pada QS Ad-Dhuhan:3,  “Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.
  3. Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati Nabi melalui malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan kadang-kadang satu surat. Diisyaratkan dalam Surat Ass-Syu’ara’ 193-195, “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”.

[1])  Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980, hal. 5-6

[2]) Subhi Ash-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin Bairut, 1988, hal. 51

[3]) Lauh Mahfuzh adalah sebuah catatan yang di dalamnya terdapat catatan mengenai segala sesuatu yang eksis dan yang ditulis sejak Zaman azali

Asbabun Nuzul

Tinggalkan komentar

Al-Quran Al-Kariem adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan aplikasikan dalam kehidupan mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.

Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia dengan berbagai fungsi diantaranya berfungsi sebagai petunjuk (hudan), obat atau penawar hat (as-syifaa’), pembeda antara yang haq dan batil (al-furqan), serta pemberi kabar baik dan peringatan (basyiraa wa nazira). Selain dari itu kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang mengandung kebenaran adalah hal yang paling pokok dan penting. Karena fungsinya ini, Al-Qur’an selalau dirujuk oleh manusia sejak kehadirannya sampai sekarang.

Al Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, sebagian besar ayat-ayat al_Qur’an pada dasarnya mengajarkan kita untuk menegakkan suatu kehidupan yang berdasarkan keimanan, menyikapi sejarah masa lalu serta kejadian-kejadian kontemporer dan tentang berita-berita masa depan.

Mempelajari kandungan Al-Qur’an akan menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan dan pandangan, menemukan persfektif baru, serta mendapatkan hal-hal yang baru. Mempelajari kandungan Al-Qur’an dapat mendorong kita lebih meyakini kebenaran dan keunikan kandungannya, yang menunjukkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sebagai penciptanya.

Untuk lebih memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an, kiranya diperlukan pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat-ayat al-Qur’an, atau yang sering disebut sebagai “Asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya suatu ayat). Dengan mengetahui asbabun nuzul suatu ayat, kita akan lebih memahami makna dan kandungan ayat tersebut, serta akan terlepas dari keragu-raguan dalam menafsirkannya. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya. Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Upaya itu telah mereka laksanakan sejak Nabi Muhammad Saw masih berada di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah hingga saat ini. Dengan kata lain upaya tersebut telah mereka laksanakan sejak al-Qur’an diturunkan hingga saat ini. Mengerti  asbabun nuzul sangat banyak manfaatnya. Karena itu tidak benar orang-orang mengatakan, bahwa mempelajari dan memahami sebab-sebab turun  al-Qur’an itu tidak berguna, dengan alasan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an itu telah masuk dalam ruang lingkup sejarah. Di antara manfaatnya yang praktis ialah menghilangkan kesulitan dalam memberikan arti  ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam sejarah dikemukakan bahwa para ulama salaf pernah mengalami kesulitan dalam menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an. Namun setelah mendapatkan asbabun nuzul ayat-ayat teresebut, mereka tidak lagi mendapat kesulitan dalam menafsirkan. [1]

Untuk mengetahui asbab an-nuzul secara shahih, para ulama berpegang kepada riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam atau dari sahabat.Pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya.  Ilmu Asbabun Nuzul mempunyai pengaruh yang penting dalam memahami ayat, karenanya kebanyakan ulama begitu memperhatikan ilmu tentang asbabun nuzul bahkan ada yang menyusunnya secara khusus. Diantara tokoh (penyusunnya) antara lain Ali Ibnu al-Madiny guru Imam al-Bukhari r.a.

Kitab yang terkenal dalam hal ini adalah kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidy sebagaimana halnya judul yang telah dikarang oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar. Sedangkan as-Sayuthy juga telah menyusun sebuah kitab yang lengkap lagi pula sangat bernilai dengan judul Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Oleh karena pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Qur’an guna mempertegas dan mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya, dapatlah kami katakan bahwa diantara ayat Al-Qur’an ada yang tidak mungkin dapat dipahami atau tidak mungkin diketahui ketentuannya/hukumnya tanpa ilmu Asbabun Nuzul.

Beberapa alasan perlunya mempelajari asbabun nuzul antara lain adalah karena:

  1. Penegasan bahwa al-Qur’an benar dari Allah.
  2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memperhatikan Rasul dalam menjalankan misi risalahnya.
  3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya dengan menghilangkan duka cita mereka.
  4. Sarana memahami ayat secara tepat.
  5. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
  6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an.
  7. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat.
  8. Memudahkan menghafal dan memahami ayat serta memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.
  9. Mengetahui makna serta rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an
  10. Menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum.
  11. Cara mengetahui riwayat asbabun nuzul melalui periwayatan yang benar dari orang-orang yang melihat dan melihat langsung turunnya ayat.
  12. Kaidah hukum yang belum jelas dalam al-Qur’an, dapat dipermudah dengan mengetahui asbab-nuzulnya. Karena dengannya penafsiran ayat lebih jelas untuk dipahami.[2]
Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang terjadi sebelum turun ayat, sedangkan sesudah turunnya ayat tidaklah disebut “asbab”.[3] Menurut Wakidy, Asbabun Nuzul adalah peristiwa sebelum turun ayat, walaupun “sebelumnya” itu masanya jauh seperti adanya peristiwa gajah dengan surat al-Fiil.

1. Pengertian Asbabun Nuzul secara bahasa;

Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Qur’an[4]. dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud adalah; secara historis, al-Qur’an bukanlah wahyu yang turun dalam ruang hampa, tetapi ia mempunyai latar belakang, argumentasi dan faktor-faktor tertentu yang menjadikan dia “turun” ke bumi. Hal ini karena, al-Qur’an “diturunkan” sebagai alat untuk menjawab problematika kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, kehadirannya di alam material sangat terkait ruang dan waktu tertentu yang menjadi faktor-faktor di balik turunnya al-Qur’an.
2. Pengertian Asbabun Nuzul secara Istilah;
Menurut istilah atau secara terminologi asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya adalah, sesuatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi Muhammad Saw, atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi dan turunlah suatu atau beberapa ayat dari Allah Swt yang berhubungan dengan kejadian itu, atau dengan “dijawabnya” pertanyaan itu baik peristiwa itu merupakan pertengkaran, ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun merupakan suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.
a. Menurut Az-Zarqani
“Az-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan menyatakan, Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan turunya satu atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat.[5] Sanada dengan Az-Zarqani, Daud al-Aththar mendefinisikan Asbabun Nuzul sebagai sesuatu yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu pertanyaan atau menceritakan suatu peristiwa itu
b. Ash-Shabuni
Asbab an-Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
c. Subhi Shalih
Subhi as-Shalih dalam Mabahits fi Ulumil Qur’an menyatakan Asbabul Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunya satu atau beberapa ayat sebagai jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada waktu terjadinya sebab itu.[6]
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”

d. Mana’ al-Qathan

“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.[7]

 

 

Kendatipun redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda semua menyimpulkan bahwa asbab an-nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat al-Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.

Mengutip pengertian dari Subhi al-Shaleh kita dapat mengetahui bahwa asbabun nuzul ada kalanya berbentuk peristiwa atau juga berupa pertanyaan, kemudian asbabun nuzul yang berupa peristiwa itu sendiri terbagi menjadi 3 macam :
1. Peristiwa berupa pertengkaran
Seperti kisah turunnya surat Ali Imran: 99-103

Yang bermula dari adanya perselisihan oleh kaum Aus dan Khazraj hingga turun ayat 100 dari surat Ali Imran yang menyerukan untuk menjauhi perselisihan.

“…Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman…”

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika kaum Aus dan Khazraj duduk-duduk, berceritalah merekka tentang permusuhan dizaman jahiliah, sehingga bangkitlah amarah kedua kaum tersebut. Masing-masing bangkit memegang senjatanya, saling berhadapan. Maka turunlah ayat tersebut (Ali Imran 99-103).[8]
2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius

Seperti kisah turunnya surat an-Nisa’: 43

Saat itu ada seorang Imam shalat yang sedang dalam keadaan mabuk, sehingga salah mengucapkan surat al-Kafirun, surat An-Nisa’ turun dengan perintah untuk menjauhi shalat dalam keadaan mabuk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…”

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ‘Abdurahman bin ‘Auf mengundang makan ‘Ali dan kawan-kawannya. Kemudian dihidangkan minuman khamar (arak/minuman keras – yang pada saat itu belum ada larangan untuk meminumnya), sehingga terganggulah otak mereka. Ketika tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh ‘Ali menjadi imam, dan pada waktu itu beliau membaca dengan keliru, Qul ya ayyuhal kafirun; la a’budu ma ta’budun; wa nahnu na’budu ma ta’budun (Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah”). Maka turunlah ayat tersebut (Q.S. An Nisa: 43) sebagai larangan shalat dalam keadaan mabuk.[9]

3. Peristiwa berupa cita-cita atau keinginan

Ini dicontohkan dengan cita-cita Umar ibn Khattab yang menginginkan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat

والتخذ وامن مقام ابراهيم مصلّى

Yang terdapat pada surat Al-Baqarah: 125

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ‘Umar menerangkan bahwa pendapatnya bersesuaian dengan firman Allah di dalam tiga perkara, yaitu (1) ketika ia mengemukakan usul: “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya tuan jadikan maqam Ibrahim[10] sebagai tempat shalat?” Maka turunlah ayat tersebut (al-Baqarah: 125)[11]

Sedangkan peristiwa yang berupa pertanyaan dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

1. Pertanyaan tentang masa lalu seperti:
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya’”. (QS. Al-Kahfi: 83)
2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu, seperti ayat:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra’: 85)
3. Pertanyaan tentang masa yang akan datang
Seperti pada surat An-Nazi’at: 42
“(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Asbabun Nuzul adalah suatu peristiwa yang ada kaitan langsung dengan satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang diturunkan ketika itu, baik sebagai: (a) Jawaban suatu pertanyaan atau, (b) Penjelasan hukum yang dikandung ayat tersebut, atau (c) Contoh kasus yang diceritakan ayat tersebut.

[1] Shaleh, 2007, “Asbabun Nuzul” h.5

[2] Subhi as-Shalih, 1985, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

[3] Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumi Qur’an, (Bairut: Daul Fikr, t.th.), h. 29-30.

[4] Ahmad Syadali dan Ahmad Rifa’i, Ulumul Qur’an I, Bandung: Pustaka Setia, 2006, hlm. 89.

[5] Muhammad Abdul Azhim az-Zarqani, Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an, (Darul Hayat al-Kitab al-Arabiyyah,t.th,), h. 22.

[6] Subhi as-Shalih, Mabahits fi Ulumil Qur’an, (Beirut: Darul Ilmi, t.th.), h. 132.

[7] Mana’ al-Qathan, Mabahits fi Ulumul Qur’an, Mansyurat al-Ahsan al-Hadits, t.th, 1973, h. 78.

[8] Diriwayatkan oleh al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dikutip dari Shaleh, Asbabun Nuzul.

[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali. Dikutip dari Shaleh, Asbabun Nuzul

[10] Maqam Ibrahim: Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim a.s. pada batu ketika membangun Ka’bah yang terdapat dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi (Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, 1994, Jakarta: Ikhtiar baru Van Houve, Jilid III, hal. 126). Dikutip dari Shaleh, Ababun Nuzul” h.38 ck.

[11] Sejak itu maqam Ibrahim dijadikan tempat imam berdiri bagi orang-orang yang shalat di Masjidil Haram, dan disunatkan shalat sunat tawaf ditempat tersebut. Dikutip dari Shaleh, “Asbabun Nuzul” h. 38.

Reformasi Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Masyarakat Madani Di Indonesia

Tinggalkan komentar

Oleh: DR. H. Suroso Imam Zadzuli, SE

 

Untuk memahami tentang Ilmu Pengetahuan, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian tentang ilmu pengetahuan baik secara umum maupun secara religius khususnya menurut pandangan Islam.

Definisi secara umum adalah sebagai berikut:

“Science is a branch of knowlage or study dealing with a body of facts or truths systematically arranged and showing the operation of general laws” (The Random House Dictionary og The English Language College Edition).

Sedangkan pengertian ilmu menurut Imam Malik:

“Ilmu adalah nur (cahaya) yang dicurahkan Allah kepada siapa yang Allah kehendaki, dan bukan disebabkan banyaknya riwayat yang dimiliki seseorang”.

 

Allah dalam menciptakan manusia terdiri atas 6 (enam) unsur sumber daya insani yang meliputi:

  1. Cahaya Tuhan (nur al-Illahi/sirrullah).
  2. Ruh (yang telah diberikan pada janin setelah usia kehamilan sekitar 3 bulan dalam rahim ibu),
  3. Kalbu/hati nurani (yang merupakan tempat vital bagi kualitas manusia dimana bila hati nurani manusia tersebut baik, makabaiklah manusia itu secara keseluruhan dan sebaliknya jika buruk maka buruk pula akhlak dan martabat manusia secara keseluruhan).
  4. Akal (merupakan sumber pemberi inspirasi dalam hal berfikir untuk berekreasi, memproses segala sesuatu obyek yang dapat ditangkap oleh indra manusia baik untuk dinilai kebenarannya, direkam/disimpan ataupun  untuk dikeluarkan kembali dalam bentuk memori untuk diproses lebih lanjut). Akal merupakan alat prosesor yang handal dan tak akan dapat diganti oleh peralatan komputer model apapun yang dibuat oleh manusia.
  5. Nafsu (hati sanubari merupakan sumber ataupun asal dimana manusia mempunyai keinginan yang luar biasa/ serta terbatas namun jika nafsu ini dapat dikendalikan oleh akal dan akal masih dapat dikendalikan oleh kalbu akan menghasilkan sesuatu amalan yang baik/positif. Tapi jika sebaliknya diantara nafsu menjadi dominan mengendalikan akal dan akal mengeliminir kebenaran kalbu, maka akan melahirkan manusia yang berkualitas rendah bahkan lebih rendah dari derajat binatang).
  6. Raga (cahaya Allah, roh, kalbu, akal dan nafsu secara keseluruhan di balut/di kemas oleh raga/ badan secara fisik maka berbentuklah manusia seperti kita ini.

Dengan demikain ilmu yang kita cari adalah ilmu yang harus dapat mendekati kebenaran yang hakii dan diterapkan oleh manusia yang menyatukan sumber dayannya yang sangst potensiall untuk memakmurkan bumi demi kebahagiaan jasmani dan rohani/material an spiritual gna keperluan dunia dan akhiratnya. Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui pendidikan.

Pendidikan adalah merupakan kunci utama kebangkitan/keberhasilan dari suatu bangsa. Pendidikan yang sebagian besar dimanifestasikan dalam bentuk baca tulis telah merubah peta keberhasilan bangsa-bangsa di Dunia. Seperti yang tercantum dalam Surat Al-‘Alaq, ayat 1 sampai dengan 5 yang maknanya:

“ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”

“Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah”

“Bacalah, dan Thuanmu itu amat mulia”

“Yang mengajar (manusia) dengan kalam

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketauinya.

Dengan awal kelima ayat tersebut, Islam telah merubah peta pendidikan dari bangsa yang tidak berakhlak menjadi bangsa yang berbudi luhur.

Dari beberapa ayat tersebut juga nampak bahwa peranan akal manusia yang memungkinkan berkembangnya ilmu dan tekhnologi sabagai kelengkapan bekal hidup manusia di dunia maupun diakhirat nanti. Untuk membentuk manusia yang berkualitas & berilmu, jelas memerlukan sistem pendidikan baik lewat jalur formal maupun non formal. Dengan  pendidikan baik dengan materi umum maupun ilmu agama akan mempertinggi kualitas  manusia, yang pada akhirnya akan dapat pula meningkatkan nilai output bila manusia tersebut berusaha, bekerja dan diiringi doa.

Jenis-Jenis Jual Beli dalam Islam

Tinggalkan komentar

Jual beli adalah suatu kegiatan memindahkan hak kepemilikan dari penjual kepada pembeli sesuai dengan harga dan perjanjian yang disepakati bersama. Ada beberapa jenis akad jual beli dalam ekonomi syariah:

  1. Salam, perjanjian jual beli, dengan cara pemesanan barang dengan spesifikasi tertentu yang dibayar di muka dan penjual harus menyediakan barang tersebut dan diantarkan kepada sipembeli dengan tempat dan waktu penyerahan barang yang sudah ditentukan dimuka. Dalam akad salam, barang yang diperjualbelikan harus dapat dihitung atau ditimbang beratnya, jenis, klasifikasi dan spesifikasinya juaga harus jelas. Apabila barang pesanan yang diantarkan lebih baik spesifikasinya sipembeli harus mau menerima dan sipenjual tidak berhak untuk memperoleh tambahan pembayaran, namun sebaliknya jika barang yang diantarkan lebih buaruk spesifikasinya, maka sipembeli berhak menolak barang tersebut dan sipenjual harus mau mengembalikan uangnya.
  2. Istisna’, yaitu suatu perjanjian jual beli dengan cara memesan barang yang bukan komuditi atau barang pertanian tapi barang yang dibuat  dengan mesin dan keahlian kusus. Pembayaran jual beli istisna dilakukan dengan cara pembayaran sebagian dimuka den bisa dengan cicilan atau langsung dibayar sekaligus apabila barang pesanan tersebut sudah selesai dan siap untuk digunakan oleh pembelinya.
    Salah satu syarat yang paling penting pada akad istisna adalah pada bahan mentah dari barang pesanan tersebut harus disediakan sendiri oleh penjualnya. Apabila bahan mentah berasal dari si pembeli, perjanjian ini tidak bisa disebut sebagai akad istisna’ tetapi menjadi akad ijarah. Apabila barang pesanan tersebut sudah jadi tetapi tidak sesuai dengan apa yang diminta oleh pembeli maka sipembeli boleh menolak untuk menerima barang tersebut dan penjual harus menggantinya dengan barang yang sesuai dengan barang yang sesuai dengan keinginan pembeli sebelumnya.
  3. Murabahah, adalah perjanjian jual beli dengan harga pasar ditambah dengan laba atau untung buat si penjual, dimana pembeli mengetahui dengan pasti harga pasar dari barang tersebut dan tambahan harga dari penjual.
  4. Musawamah, transaksi jual beli dengan harga yang bisa ditawar, dimana si penjual tidak memberi tahu kan sipembeli harga pokok/pasar dari barang tersebut dan berapa keuntungan yang diperolehnya. Si pembeli pun bebas menawar harga barang yang akan dibelinya. Terjadinya jual beli ini sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak atau dengan cara negosiasi.
  5. Tawliyah, Transaksi jual beli dengan harga pokok/pasar dimana penjual tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan barangnya.
  6. Wadiyah, Transaksi jual beli dengan harga pokok/pasar, atau si penjual memberi diskon atas barang yang dijualnya.

Perbedaan Sudut Pandang dalam Ekonomi Islam

Tinggalkan komentar

Islam tidak melarang adanya perbedaan pandangan mengenai suatu masalah selain masalah akidah. Sebab perbedaan pandangan dalam Islam merupakan suatu rahmat. Demikian pula, perbedaan pandangan dalam hal pengertian dimensi ekonomi Islam bisa jadi berbeda dikalangan ahli ekonomi Islam. Karena masing-masing memiliki pandangan dan dasar hukum atau rasionalitas dalam memandang ekonomi Islam sebagai suatu disiplin Ilmu. Dalam tataran paradigma, ekonom-ekonom muslim tidak mengalami masalah perbedaan pendapat yang berarti. Namun ketika mereka dimainta untuk menjelaskan apa dan bagaimana konsep ekonomi Islam, mulai muncul perbedaan pendapat. Sampai saat ini, pemikiran ekonom-ekonom Muslim kontemporer dapat diklasifikasikan setidaknya menjadi tiga mazhab, yakni:

1. Mazhab Iqtishaduna

Mazhab ini berpendapat bahwa ekonomi tidak pernah bisa sejalan dengan dengan Islam. Ekonomi tetap ekonomi dan Islam tetap Islam. Ada perbedaan dalam memandang masalah ekonomi (kelangkaan). Baqir menolak adanya kelangkaan. Dengan alasan, Allah menciptakan bumi, langit dan segala isinya adalah untuk manusia. Baqir menolak pandangan tidak terbatasnya keinginan manusia, karena ada marginal utility, law of diminishing returns. Masalah muncul karena distribusi yang tidak merata dan ketidak adilan.. Teori ekonomi seharusnya didesikasikan dari Al Qur’an. Para tokoh mazhab ini diantaranya: Muhammad Baqir as Sadr, Abbas Mirakhor, Baqir al-Hasani, Kadim as Sadr, Iraj Toutounchian, Hedayanti.

2. Mazhab Mainstream

Mazhab ini berpandangan bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas yang dihadapkan dengan keinginan manusia yang tak terbatas. Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan pandangan konvensional, perbedaannya hanya pada cara penyelesaian. Dalam konvensional ditentukan oleh pilihan dan sklala prioritas berdasarkan selera pribadi masing-masing (pilihan berdasarkan hawa nafsu). Ekonomi Islam dipandu oleh Allah lewat al Qur’an dan Sunnah. Diantara tokoh pendukung mazhab ini adalah: Muhammad Umer Chapra, Muhammad Abdul Mannan, Muhammad Nejatullah Siddiqi.

3. Mazhab yang mengkritik dua mazhab sebelumnya.

Mazhab Baqir dikritik sebagai mazhab yang berusaha menemukan sesuatu yang baru yang sebenarnya sudah ditemukan oleh orang lain. Menghancurkan teori lama, kemudian menggantikan dengan teori baru. Mazhab Mainstream dikritik sebagai jiplakan dari ekonomi neoklasik dengan menghilangkan variabel riba dan memasukan variabel zakat, serta niat. Mazhab ini berpendapat: Analisis kritis bukan saja dilakukan terhadap sosialis dan kapitaslis, tetapi juga terhadap ekonomi Islam. Islam pasti benar tetapi ekonomi Islam belum tentu benar karena ekonomi Islam hasil tafsiran manusia dari al Qur’an dan Hadits. Diantara tokoh mazhab ini adalah: Timur Kuran, Jomo, Muhammad Arif, dan lain-lain.

Sumber:

Muhammad. Etika Bisnis Islami. Yogyakarta: UPP AMP-YKPN

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.